Ikhwanul Muslimin dan Partai Politik

Oleh : Hasan Al Banna

Bagaimana pandangan Hasan Al Banna tentang Partai Politik dan Parlemen serta Koalisi Antar Partai – khususnya yang ada di Mesir ?

Penulis salinkan dari Majmu’atur Rasail, Mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran bagi kita.

Selamat Membaca

****

Ikhwanul Muslimin berkeyakinan bahwa partai-partai politik yang ada di Mesir didirikan dalam suasana khusus dan kebanyakan oleh ambisi pribadi, bukan karena kemaslahatan. Tentang penjelasannya, kalian semua telah dan akan mengetahuinya.

Ikhwan berkeyakinan bahwa partai-partai yang ada, hingga kini belum dapat menentukan program dan manhajnya secara pasti. Semua mengaku akan berjuang demi kemaslahatan umat dalam segala aspeknya. Akan tetapi, bagaimana perincian kerjanya serta apa pula sarana untuk mewujudkannya? Sarana apa yng tlahdisiapkan? Apa kendala-kendala yang mungkin menghadang di medan pelaksanaan? Bagaimana pula cara menaklukkannya? Jawaban atas semua pertanyaan itu tidak akan didapatkan dari para pemimpin dan pengurus partai. Mereka telah sepakat pada kekosongan ini, sebagaimana mereka juga sepakat dalam hal lain, yakni ambisi merebut kekuasaan, melakukan berbagai kampanye partai, menggunakan berbagai sarana; mulia atau hina untuk mencapai tujuan, dan mencala lawan politik yang menjadi penghalang tercapainya tujuan.

Ikhwan berkeyakinan bahwa sistem kepartaian seperti ini telah merusak seluruh tatanan kehidupan manusia, menelantarkan kemaslahatan mereka, merusak akhlak mereka, dan memporakporandakan kesatuan mereka, dan menorehkan dampak negatif dalam kehidupan mereka, baik yang khusus maupun umum.

Ikhwan berkeyakinan bahwa sistem perwakilan, atau bahkan parlemen itu tidak membutuhkan sistem kepartaian dengan bentuknya seperti yang ada di Mesir sekarang. Andaikan tidak seperti itu, maka tidak akan berdiri pemerintahan koalisi dalam negara demokratis.

Argumentasi yang mengatakan bahwa sistem parlemen tidak mungkin eksis kecuali harus ada partai-partai politik, adalah argumentasi yang lemah. Banyak negara yang menggunakan sistem Parlementer bisa berjalan dengan sistem partai tunggal. Dan itu sangat mungkin.

Ikhwan juga berkeyakinan bahwa ada perbedaan prinsip antara kebebasan berpendapat, berpikir, bersuara, berekspresi, bermusyawarah, dan nasihat –sebagaimana  yang  digariskan oleh Islam, dengan fanatisme terhadap pendapat, keluar dari lingkaran jamaah, berusaha terus-menerus untuk memperluas jurang perpecahan di kalangan umat, dan menggunacang kekuasaan pemerintah yang menjadi konsekuensi logis sistem kepartaian dan yang ditolak oleh Islam, bahkan sangat diharamkan. Sebab Islam dalam semua syariatnya selalu menyerukan untuk bersatu dan bekerja sama.

Inilah pandangan global Ikhwan terhadap sistem kepartaian dan berbagai partai yang ada di Mesir. Oleh karena itulah, sejak setahun yang lalu Ikhwan menyerukan kepada para pemimpin partai untuk membuang permusuhan dan sebagiannya bergabung dengan sebagian yang lain. Ikhwan juga mengusulkan adanya penengah dalam hal ini kepada yang mulia Muhammad Ali dan Umar Thusun. Sebagaimana Ikhwan juga meminta yang mulia raja agar membubarkan partai-partai yang ada ini, sehingga mereka bergabung dalam satu organisasi kemasyarakatan yang bekerja untuk kemaslahatan umat berdasarkan kaidah-kaidah Islam.

Jika dulu kondisi belum memungkinkan untuk merealisasikan fikrah ini, maka kami berkeyakinan bahwa tahun ini adalah bukti kebenaran pandangan Ikhwan. Bagi yang masih ragu, maka tahun ini memberikan keyakinan bahwa tiada kebaikan bagi keberadaan partai-partai itu. Ikhwan akan terus mengerahkan potensinya untuk hal ini.

Dan, dengan taufiq Allah, kesadaran umat, dan kegagalan tokoh-tokoh partai Ikhwan akan sampai pada apa yang dikehendaki. Dengan begitu pasti akan terbukti sunatullah,

“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tiada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” (Ar-Ra’d:17)

Para tokoh dari sebagaian partai beranggapan bahwa arahan ini dimaksudkan untuk menghancurkan partai mereka demi membantu partai lain dan untuk mencari keuntungan tertentu. Bukti paling nyata atas kekeliruan anggapan ini, adalah bahwa dugaan seperti itu juga bersemayam dalam semua partai politik. Kebanyak tokoh partai Al-Wafd menuduh bahwa Ikhwanul Muslimin memusuhinya dan menjadikannya sebagai satu-satunya sasaran yang dimaksud dalam pengungkapan sifat-sifat partai di atas.

Mereka juga menuduh bahwa Ikhwan menghasut masyarakat untuk memusuhi menggembosi Al-Wafd demi keuntungan pemerintah dan mengokohkan partai pemerintah. Pada saat yang bersamaan, kita juga mendengar tuduhan yang sama dari partai pemerintah.

Adakah bukti yang lebih jujur dari hal ini? Dimana Ikhwan menyikapi semua partai dengan sikap yang sama, yaitu sikap yang muncul dari akidah, digerakkan dengan bimbingan nurani dan keimanan mereka?

Saya ingin mengatakan kepada saudara-saudara kami dari tokoh-tokoh partai yang ada, “Sesungguhnya hari  yang digunakan Ikhwanul Muslimin untuk beramal demi fikrah lain belum ada dan tidak akan pernah ada. Ikhwan tidak pernah memendam permusuhan dengan partai manapun, namun jiwa mereka yakin sepenuh hati bahwa Mesir tidak cocok dan tidak terselamatkan, kecuali jika seluruh partai yang ada dibubarkan, kemudian membentuk satu organisasi kemasyarakatan yang aktif membimbing umat pada keberhasilan, sejalan dengan ajaran Al-Qur’anul Karim.

Pada kesempatan ini saya ingin mengatakan, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin beranggapaan bahwa ide koalisi antarpartai itu mandul. Mereka menganggap ide itu Cuma sekedar peredam, bukan solusi. Maka tidak akan lama, orang-orang yang berkoalisi itu bubar dan kembali berperang satu sama lain dengan dahsyat melebihi sebelum berkoalisi.

Solusi paling ampuh dan sukses adalah bubarnya partai-partai itu dengan sukarela, karena ia telah melakukan tugasnya dan kondisi yang memicu berdirinya telah hilang. Bukankah setiap zaman itu ada pergiliran dan tokoh-tokoh nya, sebagaimana kata pepatah.

9 Tanggapan

  1. kondisi mesir dengan Indonesia jelas berbeda

  2. Majmu’atur Rasail bukanlah kitab suci yg tidak boleh dirubah. Sesuaikan kondisi di lapangan.

  3. saya pikir, opini tentang koalisi itu patut dipertimbangkan PKS sebagai anak IM di Ina

  4. Jadi? Apa maksud antum mendirikan partai politik itu dilarang? Mendirikan partai politik itu masalah ijtihad duniawi. Imam asy-Syahid berijtihad seperti itu karena menurutnya keadaan pada saat itu menuntut seperti itu. Namanya ijtihad bisa saja berubah, sebagaimana beliau menyarankan kepada kita untuk memahami realitas yang ada (fikih waqi’). Dalam perkembangan sejarah sendiri, al-Ikhwan adalah bagian dari partai politik Mesir, meskipun kenyataannya sering diberangus. Namun kemudian mereka bergabung dengan partai politik lain seperti wafd dan partai buruh. Dalam konteks indonesia, PKS banyak mengambil pelajaran dari al-Ikhwan. Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul, Ummatuna Baina Qarnain (Islam di Abad 21), menyebutkan PK(S) sebagai kepanjangan tangan Al-Ikhwan. Wallahu a’lam

  5. Sebaiknya Anda baca salah satu buku ulama Ikhwanul Muslimin, Dr. Yusuf Al-Qardhawi, berjudul “Meluruskan dikotomi antara Agama dengan Politik”.

  6. Sejarah mencatat di zaman para khalifah juga terjadi pergolakan politik karena kepemimpinan bukankah 3 Khalifah mati karena terbunuh ……… mungkin ada hikmah disini, namun berbicara tentang sistim perpolitikan pada saat itu juga belum ditegaskan secara eksplisit dan bukan tidak mungkin analisa Hasan Al Banna tentang sistim partai tunggal dalam parlemen juga akan menjadi kemandekan dalam sistim politik jika suatu saat kekuasaannya semakin besar dan semua keputusan ada padanya …tidakkah akan menjadi sebuah lembaga yang otoriter …….sebuah sistim memang selalu memilki konsekwensi logis dan kita berharap dari kemajemukan akan muncul yang lebih baik

  7. Menurut pendapat ana pendirian parpol sangat perlu untuk menampung aspirasi aktivis dakwah agar dalam berdakwah tidak dicurigai oleh aparat2 yg berwenang (seperti era orba dulu) yang jadi masalah disini wajihah parpol disalah gunakan oleh oknum2 pengurus utk kepentingan pribadi dgn mencari proyek2 ke Departemen, Pemda dan BUMN yg alasan utk dana dakwah, sehingga jalan yg diambil petinggi2 parpol utk memperlancar pengumpulan dananya salah satunya dgn musyarokah

    • emang boleh mendirikan partai politik tapi harus dengan niat untuk mencari ridho allah tapi sekarang banyak yang mendidrikan partai politik tapi hanya untuk kepentingan pribadi atau jalan untuk jadi pemimpin atau penguasa sehingga rakyat yang semestinya tadak tau apa-apa yang jadi korban dengan janji-janji politik yang hanya omong kosong,orang yang kayak itu tidak di perbolehkan mendirikan partai

  8. sepakat, selalu berinovasi sesuai kondisi yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: