Good Will Hunting, Sistem Reward Terbuka untuk Para Otodidak

Good Will Hunting, sebuah film lama tahun 1997 yang tak kunjung usai kesannya bagi penulis.
Diperankan dengan apik oleh Robin William dan Matt Damon.

Matt Damon memerankan karakter seorang pemuda jenius bernama Will Hunting. Jenius yang bermasalah secara psikologis karena dibesarkan di keluarga “broken home”.

Bertemulah kemudian Will Hunting dengan Sean Maguire (Robin William), seorang psikolog handal yang natural. Yang pernah mengalami masa-masa suram karena ditinggal istrinya tercinta karena sakit parah yang tak terobati.

Terapi berlangsung alami, bahkan lebih mengesankan sebagai hubungan antara ayah dan anak dibandingkan hubungan antara terapis dan pasien. Konflik antara terapi dan pasien berlangsung alami, hal yang sangat jarang terjadi tentunya di dunia psikologi klinis keseharian.

Singkat cerita, Will akhirnya membuka semua permasalahannya kepada Maguire, dan ia berhasil membangun jati dirinya kembali sebagai seseorang dengan anugrah kecerdasan luar biasa.

***

Ada beberapa hal yang menarik di film ini, setidaknya bagi penulis dan istri.

Debat kami sepanjang film adalah seputar sistem pendidikan, psikologi klinis, metode terapi, hingga persahabatan.

Tapi tulisan ini ingin sekedar memberikan sentilan tentang betapa beruntungnya Will berada di sebuah sistem yang memperkenankan para jenius yang tidak duduk di bangku sekolah untuk tetap bisa berkesempatan menunjukkan eksistensi dirinya.

Diantara sekian banyak jenius yang dilahirkan di dunia, tak banyak yang berkesempatan memperoleh sistem pendidikan yang baik, yang terbuka, bukan yang malah mematikan potensi berpikir dan berkembang.

Tanpa harus terpaku kaku oleh kurikulum – yang sesungguhnya merupakan alat bantu sistematika belajar – seseorang dengan anugerah khusus seharusnya bisa membuktikan eksistensinya kapan saja, tanpa harus terjebak birokrasi edukasi dan terdikte hal-hal yang justru tidak ada hubungannya dengan pembelajaran, pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Sistem penghargaan yang terbuka dan jujur ini dapat menghasilkan banyak pelajar-pelajar otodidak yang mungkin pencapaiannya melebihi para lulusan lembaga akademis. Ketersediaan sumber belajar yang melimpah di perpustakaan, warung internet murah hingga surat kabar gratis bisa mendorong mereka tumbuh lebih subur.

Berharap banyak dari lembaga pendidikan formal hanya akan menyebabkan kita terus berkeliling di lingkaran setan permasalahan yang tak kunjung usai. Mengembalikan semangat dan ruh pengetahuan, dari mana dan untuk apa sebuah ilmu dipelajari, dapat membuat kita bisa mencari gambaran yang lebih nyata tentang masa depan negeri ini.

Mari kita mulai …

2 Tanggapan

  1. A Beautiful Mind adalah satu dari sekian film favorit saya yang hingga kini berkesan sangat dalam. Tokoh John Nash (pemenang nobel dalam bidang ekonomi) diperankan sangat apik oleh Russel Crowe.

    Berbeda dengan film Good Will Hunting, sebagaimana ditulis oleh rezaervani@yahoo.com, yang berlatar belakang cerita fiksi. Maka A Beautiful Mind menghadirkan kisah nyata yang pernah dialami oleh John Nash beserta keluarganya yang kemudian oleh pihak Warner diangkat kelayar lebar.

    Film ini mengisahkan tentang kekuatan diri dan kekuatan pikiran. Bisikan-bisikan ‘setan’ dan kehadiran tokoh-tokoh ‘aneh’ dalam dunia John pada akhirnya mampu dikalahkannya melalui niat yang kuat, persistensi, keyakinan pada diri sendiri dan penerimaan yang luar biasa terhadap keunikan yang ada dalam dirinya.

    Kecerdasan luar biasa yang dimiliki Nash ternyata berbanding terbalik dengan hubungan intrapersonalnya. Bermalam-malam Nash senantiasa terobsesi pada dunia spy ‘mata-mata’, Nazi dan komunisme. Hingga akhirnya ia terlarut dan tak mampu membedakan dunia nyata dan dunia ‘setan’ hasil dari pikirannya.

    Melihat gelagat yang aneh pada diri Nash, Istrinya kemudian menyarankan terapi. Bertahun-tahun Nash coba menuruti nasehat psikiaternya dengan meminum rutin obat penenang dan menyangkal keberadaan sebuah dunia yang berasal dari pikirannya sendiri. Namun Hingga akhirnya mereka memiliki anak, Nash tidak kunjung jua sembuh. Malah semakin parah, karena efek dari obat yang diminumnya melumpuhkan sebagain sel-sel sarafnya.

    Hingga akhirnya dengan kekuatan dan keyakinannya sendiri, ia yakin dapat sembuh. Tanpa sepengetahuan istri dan dokternya, Nash tidak lagi meminum obat-obat syarafnya. Ia membiarkan dunia hasil olahan pikirannya kembali memasuki dunia nyatanya.

    Ia mencoba berdamai dengan mereka. Membiarkan tokoh-tokoh ‘tidak nyata’ itu berdialog dengan dirinya. Hingga akhirnya ia berdamai dengan mereka dan mulai menerima keunikan yang hanya ada dalam dirinya.

    Akhirnya Nash benar-benar sembuh. Di usianya yang beranjak tua akhirnya ia mendapatkan hadiah nobel dalam bidang ekonomi.

    Istri dan anaknya turut serta di acara gembira tersebut. Tidak lupa kawan-kawan dekat serta musuhnya (dalam dunia tidak nyatanya) turut serta dan menyambangi dirinya saat menerima penghargaan tersebut.

    alike.wordpress.com

  2. To : Mr. Abraham
    Yup betul,
    Malah saya pernah menulis di buletin sekolah SMP N 35 Bandung tahun 2001 tentang film ini.

    John Nash tidak benar-benar sembuh dari schizofrenia akut (bukan bisikan setan he he he) yang dideritanya. Obsesi yang terlalu dalam terhadap ide “original” membawa gangguan pada jiwanya.

    Walau kentara sekali dramatisir yang dilakukan di film A Beautiful Mind, film ini cukup bagus bagi para mahasiswa untuk menumbuhkan semangat belajar.

    Film lain yang bagus dan diangkat dari kisah nyata adalah Patch Adams, diperankan juga oleh Robin William, tentang dedikasi seorang dokter mendirikan Rumah Sakit Gratis untuk para pasien yang tidak dilayanidengan manusiawi di rumah sakit umum.

    Kapan ya Indonesia bisa melahirkan film-film sekelas itu ?

    Salam,
    Reza Ervani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: