Buah Hati

Oleh : Sulistyani (Ibu dari Istri Pemilik Blog, Yanik Imtiyas, Ibu Kami)

Tulisan ini dibuat oleh ibu beberapa hari setelah kami menikah bulan Mei 2008 yang lalu. Sangat mengharukan. Sengaja diarsipkan disini untuk bisa dibaca bersama. Sebagai pengingat bagi kami, betapa dalamnya cinta seorang ibu pada anaknya.

****

Buah Hati

Entah siapa yang menemukan istilah “ Buah hati”.
Yang jelas, pastilah  Dia orang yang sangat  halus & Lembut perasaannya.
Saat kita  mengucapkan kata Buah hati.  Siapakah yang terlintas dalam pikiran kita ?
Pastilah orang yang disayangi & dicintai.

Siapa Dia…..?
Kekasih ?, suami/Istri?, orang tua?, sahabat dekat?.
Ternyata bukan mereka.
Kata Buah hati lebih tepat ditujukan pada Anak – anak kita.. Amanah Allah yang dititipkan kepada kita. Berapapun jumlahnya

Akupun baru mengerti betapa  Indah dan dalamnya kata-kata itu, setelah anakku disuting oleh Pangeran Idamannya.
Putri anakku kuliah di luar kota tepatnya di Bandung.
Kurang lebih 4  Jam perjalanan dengan Bus dari rumah kami. Dia tinggal di kamar kontrakan alias indekos.
Pulang kerumah  sebulan  atau  dua bulan saat dia libur kuliahnya. Kadang-kadang  kami orangtuanya yang menengok .
Kami rasakan wajar &  biasa saja.

Suatu hari Putri telephon dari Bandung , memberitahukan kalau  ada pemuda yang  mengajaknya menikah.
Serius sekali Dia.
Sejujurnya, itu adalah berita yang sangat membahagiakan kami selaku orang tuanya. Karena  sebentar  lagi di usia  muda, & productif, dia sudah disunting orang.
Namun ada keraguan juga dihatiku . Berkali-kali kutelephon Putri  agar berpikir & Istikharah.
Dan selalu juga dijawab dengan penuh kesungguhan & kemantapan.

Giliran kami orangtuanya yang harus Istikharah untuk mohon petunjuk dari Allah. Agar keputusan kami selalu dalam Tuntunan & JalanNya.

Akhirnya disepakati tanggal & hari untuk Ta’aruf. (berkenalan dengan keluarga).
Sholat Istikharah- Mohon petunjuk Allah  masih berlanjut.
Hingga kemantapan datang, saat terngiang  kandungan Al-Qur’an surat Annur ayat 26:
“………wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….”

Seminggu kemudian ditentukan pula hari  untuk Khitbah /meninang Putri.
Hari-hari menunggu pangerannya Putri datang kerumah untuk meminang,
Badanku terasa panas-dingin tidak menentu.
Sering demam dengan panas tinggi. Ke Dokter hanya diberi Vitamin & penurun panas.
Malam hari tidur tidak pernah nyenyak.
Akibatnya……… di kantor ngantuuuk.
Aku sendiri heran… Apa telah yang terjadi denganku ?
Hal yang sama pernah aku alami saat diriku dipinang oleh Bapaknya Putri (itu terjadi 24 tahun yang lalu).

Akhirnya saat  hari pinangan  tiba. Semuanya sibuk bersih-bersih.
Ya rumah, gorden  dll. Tak lupa membersihkan diri.
Pangerannya datang bersama Ibu, adik &  kerabatnya.
Disepakatilah hari & tanggal pernikahannya.
Dihari itu badanku menggigil.
Hingga acara pinangan usai sore hari. Aku nggak kuat lagi untuk berdiri.
Badanku panas. Demam tinggi hingga 3 hari.

Tiga minggu kemudian pernikahan berlangsung.
Ijab Kobul usai diucapkan…..
Ada rasa  Lega yang sangaat dalam.
Rasa bahagia yang sangaaat Indah
Rasa haru yang luar biasa.

Namun ….
Ada sesuatu yang tercabut dari hati yang paliiiiing dalam.
Ada satu ruang kosong dalam hati.
Dilain sisi Aku dihujani oleh ucapan Selamat.

Tak dapat dipungkiri, Hari itu kuterima ucapan dengan  rasa syukur Alhamdulillah.
Atas Amanah Allah  yang dititipkan padaku.
Maha Suci Allah yang telah memberiku kepekaan perasaan.
Sehingga dapat merasakan saat  Amanah itu berpindah  pada orang lain yang sekarang sudah menjadi suaminya.

Terbayang kembali  Putri kecilku saat dalam gendongan.
Kutimang, kusayang dan terbayang manjanya.
Bersyukur karena Amanah itu dapat bersamaku.
Hingga datang Sang “Pemetik”
Seperti di alam mimpi. (Hingga aku berdo’a, agar yang terjadi bukan mimpi yang hadir sesaat).

Tiga hari setelah menikah, Putri pamit akan kembali ke Bandung. Tentu saja bersama Pangeran yang sudah berstatus suaminya .
Menikmati masa-masa indah bulan madu nya.
Dan kembali beraktifitas.
Putri melanjutkan kuliahnya yang tinggal 1 semester lagi.
Kupeluk & cium mereka.
Kupandangi kepergiannya dengan rasa penuh Cinta.

Sepeninggal mereka…..
Detik-detik berjalan , terasa sangat lambat.
Ada sesuatu yang hilang dalam rumah ini.
Dalam hati ada yang ikut pergi.
Benar-benar ada yang hilang.
Ada keharuan  & kebahagiaan yang sangat dalam.
Rasa Rindu yang sangat mendera..
Ada aliran hangat di pipi.
Kupeluk Si bungsu adiknya putri.
Dia menangis juga dalam pelukanku sambil memanggil-manggil Putri kakaknya.
Kupandang Bapaknya Putri. Yang diam mematung memandang jejak-jejak Putri.

Sudah  sebulan putri menikah.
Namun perasaan  haru dan  kehilangan itu belum juga hilang.
Sering Aku, suami & adiknya putri berbincang, menenangkan diri.
Membuka-buka album foto keluarga.

Berbeda perasaan dengan tiga tahun yang lalu
Saat putri pamit ke Bandung untuk kuliah.
Tidak ada perasaan kehilangan.

Dan sekarang ,….Purti tetap kuliah. Dikota yang sama.
Apa yang terjadi ?
Mengapa  perasaan  berbeda ?
Mengapa ada yang hilang  sehingga kerinduan mendera?
Mengapa ada yang terbawa ?
Mengapa Haru ?
Mengapa menangis ?

Rupanya  BUAH HATI ku sudah dipetik
Aliran darahku ada yang terbawa.
Kasihku ada dihatinya.
Yang kini sudah menyatu dengan Hati pangerannya.
Ya  Allah,
Engkau  telah menghimpun hati-hati ini dalam CINTAMU.
Maka bimbinglah  kami agar selalu di JalanMu.
Nama “BUAH HATI” selalu terucap dalam setiap Do’a kepadaNya.

26 Tanggapan

  1. Terimakasih puisinya bagus sekali, membuat aku bersiap kelak bila puteri-ku dipersunting…waktu itu akan datang..semoga nanti..tapi aku sudah menangis kini..melepas amanah Allah..

  2. Bagus sekali puisinya saya menjadi terharu. Sebagai ayah dari dua orang gadis, saya juga turut erasakannya.

    Wijaya

  3. “Subhanalloh…!”

  4. bagus curhatnya… smoga dikabul doanya..

  5. Subhanallah… Sampai menangis.. :((
    Hemmmhh… Mumpung sang pangeran belum datang. Semua akan saya lakukan untuk bahagiakan kedua orangtua saya. Syukron.. Jd terinspirasi ^_^

  6. wihiw….gaya eu yang legi menunggu kelahiran mujahid/mujahidahnya…..:D
    barakallah akh…..

  7. Mengingatkan saya bahwa suatu saat saya akan
    mengalami apa yang dialami bundanya putri.

  8. menyentuh…..

  9. puisi yang indah sekali bunda.. sampai” aku terharu membacanya.. oiya, maaf sekedar info dan berniat untuk membantu.. bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan.. silahkan kirimkan CV Anda ke email marketing@jacindonesia.co.id terima kasih..

  10. siklus kehidupan memang seperti itu kali yah. saat ini kita menjadi aktor pemetik. dan nanti giliran kita yang dipetik. sungguh tidak ada celah bagi kita untuk sekedar melupakan jasa baik orang tua kita. simpuh sujud dan bakti kami untuk ayah dan bunda

  11. persis ketika ibu ku akan melepas anak pertamanya dahulu,,,
    waktu aku masih SMP

  12. Perasaan yang dimiliki setiap orang tua kepada anaknya…

  13. terharu…
    gila meen…
    mata guwe berkaca kaca

  14. Setiap kata dan kalimat, aku membacanya dalam hati terasa jantung berdetak kencang dan perasaan haru mendera. Seolah -olah aku mengalami sekarang suatu kelak. Tetapi aku sadar bahwa anak kita titipan dari TUHAN.

    Dari: http://iwanmalik.wordpress.com

  15. jujur gw nangis pas baca ini…suatu saat pasti ortu gw n gw juga akan menglami hal ini….

  16. Ketika aku menikah dan mengikuti suami ke jakarta. Ibu sering menangis jika menelpon aku, bahkan ayah yang sangat jarang menangis pun ternata-bata jika menelpon aku. Ketika Orang tua ku undang untuk datang ke jkt, dibandara kami menangis terharu berpelukan… Cerita diatas mungkin sama apa yang dirasakan orang tuaku.
    I Luv u, my parent

  17. Subhanallah…. Betapa luarbiasanya seorang ibu….mengasihi dengan segenap jiwa raga….melepas dengan ikhlas ketika…..Allah telah menghendakinya untuk ananda tercinta menggenapkan separuh diinnya. Terharu saat membacanya….sampai menangis…..

  18. jadi ingat ibu. kalo pulang ke sumatra tak pernah ibu menyuruh aku pergi jauh-jauh.
    katanya kalo aku sudah “di ambil” orang pasti akan tidak dipelukan ibu lagi. dan akupun mengerti begitu takutnya beliau akan kehilangan putri satu-satunya.

  19. sy jd punya jawaban untuk pertanyaan mengapa banyak sekali mertua yang sering gak akur sama menantu wanitanya… *ihh sok berteori* tapi iya gak siii?

  20. memang benar anak adalah titipan Tuhan n anak adalah segalanya bagi seorang ibu…gw juga punya anak umur 2 tahun 7 bulan..laki-laki..ganteng…betapa gw sayang banget sama dia..dw jaga, rawat dia dari pagi siang sore malam sampe pagi lagi..dst..dst…gw anak bungsu yang dulu gatau ngejaga ponakan…tapi semenjak gw punya anak baru gw tau…betapa beruntungnya gw punya BUAH HATI….yang suatu saat nanti dia yang akan menjaga gw disaat gw dah uzur…

  21. Subhanallah

    Membacanya membuatku menitikkan air mata. Teringat kasih sayang ayah dan bunda pada diriku. Juga membuatku semakin ingin dekat dengan anakku yang saat ini masih dalam usia yang memungkinkan untuk digendong, dipeluk dan dicium.

  22. Assalamualikum

    Luar biasa menyentuh

  23. SubhanAlloh….
    Kisah nyata yang memberi ana inspirasi.
    Mungkin… bukan mungkin, tapi pasti ibu ana juga memendam perasaan seperti itu, walau ana seorang ikhwan bukan akhwat.

    Ketika memohon restu untuk menikah, beliau seperti memendam perasaan yang cukup dalam, katanya beliau takut saya melupakan beliau nanti, ketika sudah menikah.

    Ibu..Ayah , takkan pernah kulupakan jasa-jasamu. Ananda insya Alloh akan selalu menyimpan nama kalian didalam hati ini.

    Salam Kenal

    Verry Aria Firmansyah

  24. Subhanalloh akh, puisi buah hati ini sebelumnya dah ana baca di milis dari seorang teman, selamat akh, tulisannya telah menggugah banyak orang karena telah di sebarkan oleh siapa2 yang membacanya.. selamat menerima luapan pahala dari Alloh karena tulisan bermakna ini..

    abi_robbani

  25. buah hatiku sekarang di surga…
    demam berdarah merenggut nyawanya yang baru 1 tahun,terkadang kesedihan membuatku hancur dan meratapi peristiwa ini…buah hatiku yang selalu di hatiku

  26. mas izin copas ya untuk di share kepada adek2ku….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: