Payah Menjaga Keadilan Beristeri Banyak

Oleh : Buya Hamka

Penulis salinkan atas saran seorang kawan untuk melengkapi tafsir An Nisa ayat 2 dan 3 yang sebelumnya dimuat pula di blog ini. Judul diatas adalah judul yang termaktub dalam Tafsir Al Azhaar, dan berikutnya penulis salinkan tanpa perubahan pula :

Dan sekali-kali tidaklah kamu akan sanggup berlaku adil diantara perempuan-perempuan, bagaimanapun kamu menjaga.” (pangkal ayat 129).

Yang tidak sanggup mengadilkannya itu ialah hati. Belanja rumah tangga bisa diadilkan bagi yang kaya. Pergiliran hari dan malam pun bisa diadilkan. Tetapi cinta tidaklah bisa diadilkan, apatah lagi syahwat dan nafsu setubuh. Tafsir seperti inipun telah dinyatakan oleh Ibnu Abbas dan lain-lain. Kecenderungan kepada yang seorang dan kurang cenderung kepada yang lain, adalah urusan hati belaka. Siapakah yang dapat memaksa hati manusia ? Dan Tuhan sendiri, yang telah mentakdirkan demikian pun tidaklah memaksa hati manusia pada perkara pembagian hari dan waktu, sangatlah adil Nabi kita.

Semua isterinya didatanginya dengan bergilir, baik yang telah amat tua seperti Saudah yang di Madinah sudah berusia lebih dari 70 tahun, atau Aisyah yang baru berusia belasan tahun. Meskipun pada malam harinya giliran Saudah, dengan ridha Saudah sendiri telah diberikannya kepada Aisyah. Dalam hal tidak dapat mengadilkan hati itu, Rasulullah saw memohon kepada Tuhan dalam doanya yang terkenal :

Allahuma hadzaa qismii fiimaa amliku fa laa talumnii fiimaa tamliku wa laa amliku

Ya Tuhanku, inilah pembagian yang dapat aku berikan pada perkara yang dapat aku kuasai. Maka janganlah Engkau sesali aku dalam perkara yang hanya Engkau menguasai, dan aku tidaklah berkuasa.” (Dirawikan oleh Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Lantaran itu datanglah lanjutan Sabda Tuhan :

Sebab itu janganlah condong terlalu condong, sehingga kamu biarkan dia laksana barang tergantung.” Artinya sebagai seorang yang beriman, yang sadar bahwa laki-laki dapat mengekang kecenderungan kamu itu. Meskipun hati tidak dapat dipaksa, namun laki-laki yang bijaksana akan dapat mengendalikan diri. Apatah lagi bilamana dari isteri-isteri yang banyak itu telah dianugerahi Tuhan anak-anak. Tidak pun hatimu condong kepada seorang isteri, ingatlah bahwa dia adalah ibu anak-anakmu. Perlakuan tidak adil dari ayah kepada ibunya, akan meninggalkan kesan yang tidak baik pada anak-anakmu itu terhadap kamu sebagai ayahnya. Sebab itu sekali-kali jangan dijadikan isteri yang kurang dicintai itu laksana barang tergantung. Tergantung tidak bertali, terkatung-katung. Jangan sampai ada aniaya terhdap jiwanya.

****

Walau tampak lebih banyak menyorot dari sisi “keadilan laki-laki” (yang menunjukkan betapa peka dan tajamnya nasehat Buya terhadap peran laki-laki dalam kelanggengan rumah tangga), tak kurang pula nasehat beliau terhadap para perempuan yang bisa kita lihat berikut ini :

Dan jika kamu berbuat damai dan memelihara takwa, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (ujung ayat 129)

Pada ayat 128 diatas, ketika menunjukkan jalan keluar bagi perempuan yang telah merasakan bahwa hati suaminya telah kurang terhadap dirinya, Tuhan Allah menganjurkan agar dialah yang mengambil prakarsa mencari jalan damai. Kepadanya diingatkan supaya sudi berbuat baik dan damai dan mendasarkan hidup kepada takwa.

Sekarang kepada laki-laki diingatkan pula, bahwa Tuhan tahu kelemahannya. Dia tidak akan sanggup mengadilkan cinta. Sebab itu janganlah terlalu kentara keluar dari kecenderungan hati itu, sehingga sampai hati menggantung isteri tidak bertali. Untuk mengendalikan hati yang lemah itu, Tuhan memberikan resep yang sama di antara laki-laki dan perempuan. Yaitu tegakkanlah dalam dirimu sendiri keiginan damai dan tenteram, mengurangi “Krisis” dalam rumah tangga dan membuat patri yang paling kokoh, yaitu Takwa.

***

Buya kemudian menunjukkan keseimbangan hukum Islam dalam Al Quran surah An Nisa ayat 128 – 129 sebagai berikut :

Sekali lagi dengan ayat ini kita diberi peringatan yang halus dan bimbingan rohani yang murni apabila kita hendak berkawin dua, tiga sampai empat. Supaya jangan ada tekanan jiwa karena syahwat melihat perempuan yang disenangi, diberilah izin beristeri lebih dari satu (poligami). Menahan syahwat adalah hal yang sebaik-baiknya, hal yang ideal dalam hidup. Tetapi agama tidaklah membutakan mata terhadap keadaan jiwa manusia. Kalau syahwat tidak tertahankan lagi, lebih baik kawin lagi daripada berzina, atau memelihara perempuan di luar nikah. Dengan berkawin lagi syahwat dapat dikendalikan, tetapi kesukarannya tidaklah kurang. Karena tiap-tiap perempuan yang telah dikawini wajib diberi belanja dan nafkah. Sampai disebut nafkah lahir, yaitu makanan, pakaian dan kediaman. Dan disebut juga kewajiban memberikan nafkah batin, yaitu persetubuhan. Apabila beristeri lebih dari satu, keadilan inilah soal yang besar.

Isteri itu adala manusia berjiwa dan berakal juga, yang mempunyai perasaan halus, sedang diapun lemah. Seorang laki-laki yang beristeri lebih dari satu, yang bertambah kuat imannya dan takwanya kepada Tuhan dan bertambah halus perasaannya senantiasa akan merasakan beban berat keadilan itu menekan pundaknya. Suatu hal yang tidaklah dapat diatasinya, yaitu keadilan hati. Apatah lagi keadilah syahwat setubuh. Tetapi bagaimanapun beratnya soal ini, jaulah lebih berat apabila seorang laki-laki yang berzina karena tidak dapat mengendalikan nafsu. Apabila seorang laki-laki karena tidak dapat mengendalikan syahwat, lalu kawin lagi, namun dia masih dapat berjuang dalam batinnya untuk melawan hawa nafsu, menegakkan jalan damai dan takwa. Tetapi seorang yang telah terlanjur berzina, hancurlah jiwanya. Dia akan mendapat tekanan batin lebih berat daripada seorang yang beristeri lebih dari satu tadi. Maka apabila seseorang laki-laki telah sadar kelemahan dirinya lalu berusahan jangan “condong terlalu condong” sehingga membiarkan seorang isteri “tergantung tidak bertali” dan selalu memupuk rasa perbaikan dan damai dalam jiwanya, selalu takwa kepada Tuhan, maka kekurangan-kekurangan walau sedikit akan diampuni Tuhan. Dan Tuhan menunjukkan pula kasih sayangNya yang dilihatNya selalu berusaha menegakkan damai dan takwa dalam rumah tangganya. Tuhan akan memberinya bimbingan dan pimpinan.

****

Kesan keadilan itu dikuatkan lagi oleh beliau di bagian terakhir tulisan ini :

Kedua ayat ini, ayat 128 dan ayat 129 telah memberikan bayangan kepada kita bahwasanya seorang beriman laki-laki dan seorang beriman perempuan, bila bertemu satu kesulitan rumah tangga, tidaklah akan memilih jalan pendek, yaitu bercerai (talak).

Di ayat 128 dianjurkan mencari perdamaian, sampai dikatakan : “Damai itulah yang lebih baik.” Dan di ayat 129, jika laki-laki merasa bahwa dia tidak sanggup mengadilkan cinta dan nafsu setubuh, tidaklah pula jalan talak yang ditunjukkan, melainkan disuruh menekan perasaan dan “jangan terlalu”. Asal ditegakkan rasa damai dan takwa baik oleh perempuan (ayat 128) atau oleh yang laki-laki (ayat 129). Tuhan akan memberi ampun jika terdapat kesalahan berkecil-kecil dan Tuhan akan tetap menyayangi hambaNya yang insaf akan kelemahan dirinya.

Tersebut dalam hadits yang dirawikan oleh Ibnu Majah dan Abu Daud :

Berkata Rasulullah saw : Perkara yang halal tetapi paling dibenci oleh Allah ialah talak.”

Dalam ayat 128 perempuan dianjurkan, carilah jalan damai, jangan memperturutkan perasaan (sentimen). Bersuami jauh lebih baik daripada menjadi janda tegang, apatah lagi kalau sudah berumur. Di ayat 129 kepada laki-laki dianjurkan, pandai-pandailah mengendalikan diri.

Jangan setelah hati bosan, terus saja membuat isteri yang kurang dicintai laksana tergantung tidak bertali, apatah lagi akan menyebut cerai. Kalau setelah engkau bosan, lalu engkau menghambur cerai, nyatalah bahwa engkau laki-laki yang kurang pikir. Atau seorang laki-laki yang tidak patut dihargai. Hadits yang tegas pula daripada Rasulullah saw :

La’anaLlahudz dzawwaqiina wadzdzawwaqaati

Allah mengutuk laki-laki tukang cicip dan perempuan tukang cicip”

Demikian Buya Hamka …

7 Tanggapan

  1. Allahuma hadzaa qismii fiimaa amliku fa laa talumnii fiimaa tamliku wa laa amliku

    “Ya Tuhanku, inilah pembagian yang dapat aku berikan pada perkara yang dapat aku kuasai. Maka janganlah Engkau sesali aku dalam perkara yang hanya Engkau menguasai, dan aku tidaklah berkuasa.” (Dirawikan oleh Ahmad dan Ashhabus Sunan)

    Lantaran itu datanglah lanjutan Sabda Tuhan :

    “Sebab itu janganlah condong terlalu condong, sehingga kamu biarkan dia laksana barang tergantung.” Artinya sebagai seorang yang beriman, yang sadar bahwa laki-laki dapat mengekang kecenderungan kamu itu. Meskipun hati tidak dapat dipaksa, namun laki-laki yang bijaksana akan dapat mengendalikan diri. Apatah lagi bilamana dari isteri-isteri yang banyak itu telah dianugerahi Tuhan anak-anak. Tidak pun hatimu condong kepada seorang isteri, ingatlah bahwa dia adalah ibu anak-anakmu. Perlakuan tidak adil dari ayah kepada ibunya, akan meninggalkan kesan yang tidak baik pada anak-anakmu itu terhadap kamu sebagai ayahnya. Sebab itu sekali-kali jangan dijadikan isteri yang kurang dicintai itu laksana barang tergantung. Tergantung tidak bertali, terkatung-katung. Jangan sampai ada aniaya terhdap jiwanya.

    Kekurangan atau kesalahan yang dilakukan pelaku yang Menikah atau Menikah (L), tidaklah menjadi alasan, makanya jangan Menikah atau Menikah (L) seperti disini

  2. Assalaamu’alaikum wr wb…
    Innalhamdalillah, wassolaatu wassalaamu ‘ala Rosulillah. Wa ba’du!
    Dari kesimpulan di atas dapat di perhatikan mengenai hal2 awal diri seorang laki2 memiliki niat menikah lagi/ menambah istri.
    Sejarah membuktikan, bahwasanya Baginda Rosululloh saw menikah dengan istri2nya di karenakan alasan Da’wah Islam. Bukan di karenakan atas hawa nafsu beliau, lalu hal itu menjadi semacam fasilitas yang di berikan oleh Alloh swt kepada ummat Beliau. Namun fasilitas yang di berikan bukanlah sekedar fasilitas biasa yang nota bene untuk bersenang2 di dalamnya, justru hal ini secara tidak langsung akan memberatkan diri kita, menambah beban hidup kita.
    Jadi… semua itu harus di posisikan dari awalnya, niatnya?
    Berpoligami akan membuat diri kita double, triple bahagia jika niatnya untuk berda’wah memperbaiki keadaan diri kita dan ummat/ ummahat.
    Begitupun sebaliknya, ia akan membuat kita double, triple sengsara jika niatnya hanya untuk yang sifatnya ke duniaan saja.
    Dan yang paling pokok adalah kesempurnaan IMAN yang melahirkan kemurnian sifat Ta’at kepada-Nya dan kecintaan yang paripurna kepada Sunnah Baginda Rosululloh saw.
    Wallohu’alam bisshowab, wa’afuminkum.
    Wassalaamu’alaikum wr wb…

  3. oh, gitu ya. sebuah keadalian dalam rumah tangga itu penting apalagi banyak istri. wah, jangan sampai deh melalaikannya. takut di murkai.

  4. Poligami itu adalah surga bagi istri jika dia ridha namun kebalikannya bagi suami.. Poligami adalah neraka bagi suami jika ia tidak dapat berlaku adil

  5. whoooaaa……..BERAT kann ternyataaa……..satu aja ga abis gituh lho!…..lagiannn kek ga bisa nyari ibadah laen…..IBADAH YANG JELAS JELAS YAKIN BISA NGASIH PAHALA TANPA MUSTI WAS22…TAKUT NYAKITIN HATI EN JADI BIKIN DOSA!……..ZAKAT…..SEDEKAH…..PUASA……….wehhhhh buanyakkkk!!………para lelaki pejantan tangguh….YANG KREATIF LAHHH!

  6. kapan harus beristri lebih dari satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: