Mahasiswa dan Mental Peneliti

Oleh : Reza Ervani

Hari-hari ini ada 2 orang mahasiswa yang penulis bimbing menyelesaikan skripsi tugas akhir mereka di Yayasan Rumah Ilmu Indonesia.

Mereka berasal dari dua jurusan yang berbeda, tetapi karena Yayasan Rumah Ilmu Indonesia memiliki concern di pengembangan teknologi dan literatur pendidikan, kedua judul tugas akhir yang mereka ambil sangat sesuai dengan semangat Yayasan Rumah Ilmu Indonesia. Yang satu dari jurusan Biologi dan yang satu lagi dari jurusan Sejarah, kedua-duanya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Tidak mudah memang. Berkali-kali desain penelitian yang mereka buat harus penulis kritisi dan ganti. Wajah kuyu pun sering tampak setiap kali penulis “menceramahi” mereka. Tak mengapa, karena mereka adalah bagian dari Yayasan Rumah Ilmu Indonesia, maka mental mereka haruslah mental Ilmu, mental belajar.

Yang penulis tekankan benar kepada mereka adalah bahwa variabel sebuah penelitian pendidikan sangat luas adanya. Apalagi jika yang dimaksud adalah pendidikan di negeri yang bernama Indonesia. Mengharapkan kondisi medan penelitian yang ideal adalah hal yang hampir mustahil adanya.

Bingkai pemikiran yang selama ini ada di kepala mahasiswa yakni “wilayah aman skripsi untuk cepat lulus” benar-benar harus digempur setiap hari. Wilayah aman ini yang dikhawatirkan nantinya melahirkan mental buruk “mencontek” skripsi orang lain. Lebih jauh lagi, mentalitas buruk ini melahirkan lulusan-lulusan kampus yang malas berpikir, yang nantinya mengandalkan ijazah untuk mendapatkan sesuap nasi.

Harus mulai ditekankan kuat apa perbedaan antara skripsi dan “laporan”. Walaupun kecil, skripsi seharusnya menawarkan solusi dari masalah yang diangkat dalam judul yang mereka pilih. Semua kendala jangan dipandang sebagai penghambat skripsi, tetapi sebagai variabel yang mempengaruhi solusi yang ditawarkan oleh penyusun skripsi. Butuh kemampuan seorang observer untuk itu, dan itu harus ditumbuhkan.

Membaca dan merenung seharusnya menjadi bagian dari proses penyusunan skripsi, bukan sekedar mengetik. Harus ada rasa ketertarikan atas apa yang sedang diselidiki di lapangan. Harus ada semangat dan harapan bahwa apa yang mereka sedang susun adalah sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan.

Di ujungnya, harapan yang paling tinggi adalah ridho Allah swt atas apa yang mereka kerjakan dengan upaya terbaik. Itulah mental peneliti seharusnya, mental yang harus kita bentuk bersama di sosok seseorang yang berstatus “mahasiswa”.

Fa idza azzamta fa tawakal ‘alaLlah

4 Tanggapan

  1. hmm..hmm..kritis..bener Kang, kadang mahasiswa malah jadi asal-asalan. Tapi kalo bisa dijelaskan pula, ga jarang mahasiswa sendiri ga tau pengertian atau tujuan skripsi, paling taunya itu adalah syarat buat lulus. Wallaahu a’lam bish-shawwab [acan baca artikel yg lain ung]

  2. Syaa kagum dengan apa yang anda ajarkan kepada mahasiswa. Budaya menulis harus digiatkan dari diri anak bangsa. Dengan meneliti mereka akan bisa menuliskan apa yang mereka teliti kemudian membuat dengan sebuah karya tulis yang original.

    wijaya

  3. Dulu ada beberapa orang kawan yang dapat uang tambahan dari membuatkan skripsi mahasiswa lain. Datanya kebanyakan fiktif. Terutama untuk mahasiwa tugas belajar yang sdh tidak punya semangat lagi untuk buat skripsi sendiri dengan alasan usia dan kesibukan lain.

  4. great articles mas ! bravo ! next article seperti ini aku tunggu yah ! ada tips lain serupa ndak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: