Grace is Gone, Renungan buat Suami

Oleh : Reza Ervani

Tulisan ini penulis buat sebagai kontemplasi protes atas sebuah joke tentang “peran seorang Istri” di mailing list perempuan.

Di antara berbagai film yang penulis tonton bersama istri tercinta, kami menemukan sebuah film luar biasa berjudul “Grace is Gone”. Sebuah Film yang diangkat dari kisah nyata, diperankan oleh John Cusack, Emily Churchill dan Rebecca Spence.

John Cussack berperan sebagai Stanley Philips, seorang suami dari Grace – seorang istri yang berprofesi sebagai seorang tentara. Pernikahan mereka melahirkan dua orang putri, Heidi, 12 tahun, and Dawn, 8 tahun.

Suatu ketika berita mengejutkan datang ke kediaman mereka. Grace gugur di Iraq, tempat dia ditugaskan. Stanley shock, tapi dia berusaha mengendalikan diri dan mencari cara terbaik untuk mengatakan kepada dua orang putrinya bahwa ibu mereka tidak akan pernah pulang kembali.

Lalu cerita diisi dengan upaya Stanley mengkondisikan kedua orang putrinya, membuat mereka bergembira dengan memenuhi segala yang mereka inginkan, termasuk mengajak mereka melakukan perjalanan menuju sebuah taman hiburan.

Di sisi lain, Stanley juga harus berjuang meredam kerinduannya sendiri pada sang istri, yang ia lampiaskan dengan menelepon ke rumah untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri, dan berharap telepon diangkat untuk sebuah keajaiban. Saya pribadi menitikkan air mata terharu ketika adegan ini berlangsung.

Adegan ditutup dengan episode yang mengharukan di tepi pantai, saat Stanley akhirnya mengatakan kejadian sebenarnya kepada kedua putri mereka.

*****

Cinta …

Itulah yang penulis rasakan dalam alur cerita ini.

Ada sisi yang hilang dari sisi seorang suami ketika belahan jiwanya pergi.

Hal yang sama penulis rasakan ketika seorang teman bercerita betapa ia merindukan istrinya yang meninggal saat melahirkan anak mereka yang pertama.

Bagi penulis, pernikahan bukanlah sebuah formalitas. Dia adalah muara cinta dua orang hamba.

Ketika beranjak ke tempat tidur selepas tengah malam, usai menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, penulis sering mendapati istri penulis tertidur lelap. Sejenak penulis duduk di tepi tempat tidur, menatap wajahnya, menyentuh pipinya, dan terkadang mengecup lembut keningnya. Bukan tanpa alasan …

Karena wajah itulah yang ada di saat-saat berat,

Wajah itulah yang hadir saat kesetiaan makhluk lain goyah

Wajah itulah yang menguatkan hati kala ragu menyergap untuk terus melangkah

Lalu, masih adakah alasan bagi kita untuk kemudian menganggap bahwa “jabatan” istri hanyalah formalitas yang pantas dilecehkan lewat guyonan-guyonan tidak sopan ?!

Dimana rasa terima kasih kita pada wanita mulia itu ?

Seharusnya yang tersisa di benak dada kita hanyalah satu, yaitu mencari cara terbaik untuk bisa mencintai anugerah itu dengan sempurna …

29 Tanggapan

  1. ehm..akang yang satu ini emang romantis. Seharusnya memang setiap suami menghargai seorang istri sebagai pendamping, bukan formalitas maupun hanya sekedar pemuas. Mereka saling melengkapi satu sama lain.

  2. Berkaca dari cerita dan ulasan diatas,

    Terkadang saya malu pada diri sendiri karena belum bisa menyayangi Isteri saya seperti dia yang menyayangi saya tanpa pamrih.

    Apakah karena beratnya himpitan beban dunia ataukah karena memang sulit untuk mengungkapkan rasa sayang itu karena “kekerasan” hati seorang lelaki.

    Wallahu’alam.

  3. Semoga…tulisan & ulasan diatas bisa mengilhami suami2 di manapun utk menyayangi istrinya….

  4. @K’Rizal
    Heheh..terkadang lelaki emang susah bilang cinta. Setidaknya itu yg dikatakan sama beberapa orang temen laki-laki. Tp meski sulit, cobalah pernyataan itu diungkapkan melalui perbuatan. Kayak K’Reza misal. Kalo ga bisa ngomong jg, lewat SMS bisa kok. Atau lewat surat. Banyak alternatif. Sambil nguatin doa supaya diberi kelembutan hati. Karena bagaimanapun ucapan cinta yang diucapkan langsung itu lebih bermakna.
    Kesulitan jgn dijadikan alasan. Untuk mencintai memang tidak mudah, tapi belajar mencintai dan bisa saja Anda mengatakannya pada istri, “Bantu sy untuk mencintaimu setulus hati..” mungkin bisa membantu. Dan lihat semua kebaikan istri.
    Wallaahu a’lam bish shawwab.

  5. Yahh..saya melihat ada fenomena perspective yang salah tentang relasi suami-istri. sepertinya hubungan suami istri hanyalah sebatas urusan2 domestik. bahkan banyak yang menampilkan kesan bahwa relasi suami-istri tidaklah lebih dari hubungan antara hamba dengan tuannya. Sejatinya rumah tangga adalah sebuah madrasah ilmu bagi orang2 didalamnya, ada proses transfer knowledge dan ada proses untuk saling respect dan mengaktualisasikan cinta bukan hanya dengan bentuk2 yang phisik semata.

  6. I love you

  7. Assalamualaikum Mas Reza… wah tulisan yang menyentuh hati dan romantis. Saya sependapat dengan Mas Reza tentang cinta dan istri kita.

  8. Salam
    duh jadi ikur terharu, tolong semoga dibaca para suami ya🙂

  9. Asslm. Wr. Wb.
    wah, tulisannya menyentuh bget, sampe nangis ni. beruntung sekali, dan berbahagia sekali seorang istri yang bisa dicintai suaminya sampai seperti itu.
    oya, ada pertanyaan yang agak mengusik sy ni. apa memang seorang suami hanya boleh dimiliki oleh seorang istri? dgn kata lain apakah SATU suami memamg HANYA untuk SATU istri?
    mohon maaf kalo pertanyaan ini bakal mengundang polemik dan kontroversi.
    Wassalam Wr.Wb.

  10. Alhamdulillah masih ada (dan Insya ALLAH banyak) para suami yang seperti mas Reza ini… Dan saya kembali bersyukur karena saya memiliki suami yang benar-benar mampu membuat saya merasa dihargai, meski dengan cara yang amat sederhana. Saya berdoa semoga itu selamanya… dan saya juga berdoa semoga lebih banyak lagi para istri yang seberuntung saya….
    Tuk Mas Reza, terus sebarkan cinta pada ulasan-ulasan tulisanmu… Sukses dan Salam…

  11. Duh…andaikan suamiku berpikir sepertimu Kang Reza….

  12. Ya Alloh semoga aku mendapatkan jodoh yg seperti itu…….yg bisa menghargai istrinya….amiiinnnn………

  13. Karena wanita ingin dimengerti…….

    http://rotyyu.tk

  14. […] pertanyaan seorang komentator pada tulisan sebelumnya Grace is Gone, teringat penulis pada sejarah hidup Buya Hamka, seorang […]

  15. sebuah kisah yang bertolak belakang,
    tapi mengena di hati.

    postingan yang menarik…

  16. Bagi suami-suami yang punya istri mengerti hakekat hidup berumah tangga. Cintailah istri dan anakmu melebihi dirimu sendiri.
    http://iwanmalik.wordpress.com

  17. menarik!! mungkin baik juga membaca “jangan buat wanita marah” di http://darwinsimanjorang.wordpress.com
    cari aja judul tersebut, pasti Anda dapatkan.

    All the best.

  18. tidak mudah menyampaiakan kerjadian buruk kepada keluarga , kerabat dekat, anak-anak, maupun siapa saja yang telah berhubungan baik atau orang-orang yang ada di sekitarnya. butuh sebuah kekuatan besar yang berasal dari dalam diri sendiri.

    begitu komentar saya,

    kunjungi blog-ku ya,
    alamatnya: teddywirawan.wordpress.com
    beri komentar ya,

    salam dan doa

  19. saya juga sudah tonton filmnya.. memang sangat mengharukan mengingat usaha Stanley untuk tetap tenang didepan anaknya ditengah kesedihan yang luar biasa..T_T salut untuk film ini.. oiya, klik http://www.jac-recruitment.co.id untuk info lowongan pekerjaan.. terima kasih ya..

  20. sangat menyentuh utnuk mengingatkan para suami yang selalu menuntu kasih sayang istri

  21. semoga semakin banyak suami yang memuliakan wanita/istrinya….amiinn….

  22. subhanallah, makasih mas reza, ini pelajaran utk para pria nih, perempuan itu butuh cinta yg diekpresikan, mk ekspresikanlah sblm terlambat

  23. Para istri juga jgn lupa akan kewajiban sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Suami wajib menghargai istrinya… *sok tau* *masih bujang* : lol:

  24. Suami hanya berkorban keringat untuk menghidupi keluarga sedangkan istri harus berkorban nyawa untuk melahirkan anak. Smoga bacaan tersebut bermanfaat bagi kita semua, amin

  25. Ya memang setiap keluarga mempunyai beragam cerita/kisah dan kasih dalam menjalani bahtera rumah tangga, memang cinta nan tulus kepada sang pujaan hati dapat menguatkan kita para suami walau nampak gagah dari luar, seperti yang saya alami, saat lalu, kini dan entah sampai ……..

  26. saya pribadi bukan type suami romantis yg bisa setiap saat memberikan kejutan ketika hadir moment berharga atau terbiasa mengucapkan kata love you, sayang,cinta…….tapi jauh dilubuk hati yg paling dalam kecintaan dan sayang ini tidak pernah terbatas untuk istri tercinta….thanks mas reza udah kasih bahan renungan

  27. ya Allah mudah mudahan sosok seperti suami stanley banyak di muka bumi ini…

  28. a good posting……..
    membuat para suami harus banyak merenung…

    salam

  29. Kewajiban pasangan adalah 2 arah. Suami wajib menyintai istri. Begitu pula dengan sang istri.

    Suami bukanlah seorang aktor cinta. Ia adalah peserta ujian dari pelajaran cinta di bumi. Begitu pula dengan sang istri.

    Dalam memahami cinta, dibutuhkan sebuah keseimbangan di antara suami dan istri. Inilah nilai keromantisan dari cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: