Pendekatan Kultural dan Edukasi dalam Upaya Penegakan Syariah Islam

Oleh : Reza Ervani

Tulisan ini penulis buat tadinya untuk merespon diskusi (untuk tidak menyebutkannya sebagai “debat”) di blog seorang sahabat.

Seperti biasa debat antar agama selalu berlangsung panas, dan biasanya susah mencari titik temunya.

Ada satu hal yang hemat penulis menjadikan upaya penegakan syariah menjadi sesuatu yang “ditakuti” oleh pihak-pihak yang kurang mengerti tentang Islam. Yakni terlalu kentalnya campuran unsur politis yang dimasukkan ke dalamnya, sehingga timbul kesan seolah-olah upaya penegakan syariah hanya identik dengan upaya perebutan kekuasaan negara, lalu mengubah semua perangkat konstitusi yang ada.

Politik hanyalah bagian kecil dari pintu penegakan syariah. Pencampuradukan antara terminologi syariat Islam yang murni dengan idiom-idiom politik yang kadang sudah terkontaminasi dengan berbagai kepentingan praktis, menjadikan prasangka buruk terhadap upaya penegakan syariah semakin menjadi-jadi. Tidak hanya dari sisi politisi muslim yang terkadang visinya tentang penegakan syariah sedemikian kabur, juga diperburuk oleh lawan-lawan politik Islam yang memiliki kepentingan mengeneralisasi kasus-kasus spontan dan lokal menjadi isu-isu yang mereka sebut sebagai “diskriminasi terhadap minoritas”.

Bahkan lebih jauh sesungguhnya sama sekali tidak ada hubungan antara penaklukan dengan penegakan syariah. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw usai menaklukkan Mekkah tanpa peperangan. Beliau tidak pernah memaksa orang lain memeluk Islam.

Ayat kemenangan yang turun usai penaklukan itu adalah Surah An Nashr ayat 1 – 3 :

Ketika menafsirkan surah ini, Sayyid Quthb menulis sebagai berikut :

Isyarat itu tercermin dalam firman Allah,”Apabila telah datang pertolongan Allah …”. Ini adalah pertolongan Allah yang didatangkan olehNya pada waktu yang ditentukanNya, dalam bentuk yang dikehendakiNya, untuk tujuan yang digariskanNya. Nabi dan para sahabatnya tidak memiliki kewenangan apapun dalam hal ini. Tangan mereka tidak ikut menentukan, usaha mereka tidak turut memastikan, diri mereka tidak ikut andil, dan jiwa mereka tidak turut ambil bagian.

Semua itu hanya urusan Allah yang diwujudkan-Nya dengan atau tanpa menggunakan mereka. Cukuplah bagi mereka kalau Allah memberlakukan peristiwa ini melalui tangan mereka, atau menjadikan mereka sebagai penjaga dan menjadikan mereka sebagai pemegang amanat. Hanya itu andil mereka di dalam masalah pertolongan, pembebasan Kota Mekah, dan masuknya manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.

Didasarkan atas isyarat ini dan tashawwur khusus yang dibangunnya tentang hakikat urusan ini, jelaslah batas peranan Rasulullah saw dan orang-orang yang bersama beliau dengan pemberian kehormatan dan kemurahan dari Allah kepada mereka dengan merealisasikan pertolonganNya lewat tangan mereka. Urusan Rasulullah saw dan orang-orang yang bersama beliau adalah menghadapkan diri kepada Allah dengan bertasbih, bertahmid dan beristighfar pada saat mendapat kemenangan.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa tegaknya syariah hanyalah buah dari da’wah yang panjang, tidak bisa lewat shortcut keputusan politis atau kemenangan kelompok atau hizb Islam tertentu di sebuah negeri, walaupun mungkin itu bisa membantu melanggengkan (atau sebaliknya menghambat) proses penegakan syariah tersebut.

Jika kita telaah benar perang-perang yang terjadi di masa Rasulullah saw, ia terjadi saat situasi-situasi politik tertentu mencapai klimaks. Situasi ini membutuhkan kekuatan militer untuk menegakkan kedaulatan (izzah) agar keseimbangan politis tercapai kembali. Karena prinsip-prinsip dasar keadilan yang dipegang oleh Islam itu, kemenangan di pihak Islam menjadi penting, karena sejarah juga menunjukkan jika kemenangan jatuh ke tangan Quraisy, maka yang terjadi adalah penindasan. Karenanya hipotesa yang mengatakan bahwa Islam ditegakkan dengan kekuatan militer tidak sepenuhnya tepat, karena perang dalam Islam hanya untuk menegakkan kembali timbangan keadilan, bukan untuk melakukan infiltrasi. Begitu banyak sejarah pemimpin-pemimpin Islam yang menunjukkan hal ini, seperti yang terjadi di masa Shalahudin Al Ayyubi.

Keseimbangan politis ini sangat penting untuk kelangsungan da’wah.

Sirah Nabawiyah juga menunjukkan kepada kita, bahwa tidak pernah ada upaya dari Rasulullah saw untuk memulai perang. Ketika kondisi stabil, yang terjadi bukanlah penguatan-penguatan militer secara khusus untuk melakukan ekspansi. Yang terjadi adalah pendekatan-pendekatan kultural dan tarbiyah yang menyebabkan lambat laun pemeluk Islam semakin bertambah, dan secara otomatis dukungan politis dan militer pun semakin menguat.

Pendekatan kultural inilah yang kini kita abaikan.

Di zaman Soeharto, jelas kondisi sangat tidak seimbang. Aktivis Islam ditekan, diculik, bahkan dibunuh. Untuk mencapai keseimbangan dibutuhkan “perang” politis yang harus difokuskan benar-benar, agar memperoleh posisi yang “lebih tinggi” untuk tidak bisa ditekan lagi. Perang itu bisa diwujudkan dalam bentuk pendirian partai politik, pembentukan organisasi massa yang berorientasi politik atau mobilisasi gerakan dakwah mahasiswa.

Tapi itu tidaklah kemudian menjadi tujuan akhir, apalagi kemudian mengerahkan seluruh potensi dakwah untuk kepentingan politik praktis. Tercapainya kemenangan politis tidak berarti kemenangan dakwah sudah dicapai. Bahkan bisa jadi kemenangan politis yang dicapai ibarat balon, indah diluar tapi kopong di dalam.

Karenanya pendekatan kultural dan tarbiyah menjadi penting. Di sinilah pertimbangan alat dakwah berupa media massa, kesenian dan konsep-konsep pendidikan formal maupun non formal menjadi penting nantinya.

Alasan utama Michael Hart menempatkan Rasulullah Muhammad saw di peringkat pertama tokoh paling berpengaruh di dunia, adalah kemampuan beliau merubah kultur Bangsa Arab yang tadinya sering bertengkar antara kafilah menjadi Bangsa yang satu dalam naungan kalimat tauhid.

“Tidaklah aku diutus, kecuali untuk menyempurnakan akhlaq” demikian ujar Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam.

Akhlaq itu adalah sikap mental, dan merubah sikap mental jauh lebih berat daripada mencitrakan sebuah merek untuk laku di pemilihan umum. Membangun budaya yang sehat jauh lebih rumit daripada sekedar berkampanye di jalanan dan di lapangan-lapangan. Masyarakat Madani adalah masyarakat yang memiliki peradaban yang tinggi, mengembalikan nilai hakiki seorang manusia dari keterpurukan dan kehinaan yang selama ini ia alami. Dan pendidikan menjadi instrumen utama untuk mencapainya.

Perubahan akhlaq hanya bisa dilakukan lewat pendidikan yang baik. Pembangunan budaya bangsa yang berperadaban mestilah diawali dari proses tarbiyah yang terencana. Pendekatan da’wah kultural dan edukatif ini nantinya akan membuka mata mereka yang selama ini alergi dengan syariat Islam. Menghilangkan stigma negatif yang muncul tentang Islam, menggantikannya dengan kerinduan dan damba yang sangat terhadap seorang pemimpin yang muncul dari ummat Islam. Pemimpin yang mengayomi semua golongan, adil, bijaksana dan membawa keberkahan dari langit dan bumi.

Al Haqqu min robbihi wa laa takunana minal mumtariin.

Maha Benar Allah dengan Segala firmanNya.

3 Tanggapan

  1. Insya Allah bukan debat seperti biasa akhi. Dalam al Quran sekalipun kan ada metode jidal …..Insya Allah …mohon doanya.

    Inti dari tulisan ane, sesungguhnya menyadarkan bahwa isyu Piagam madinah ( bukan syariat islam ) adalah sebuah isyu yang harus terus disosiaialisasikan dengan baik oleh umat islam. Hingga akhirnya bisa menjadi satu hal yang sangat menarik untuk terus dipelajari oleh banyak orang termasuk umat non islam dan di ranah ini studi politik boleh dan sangat boleh dilakukan.

    Tentang syariat islam sendiri. Ane setuju bahwa dakwah kultural ini bisa dijadikan sebuah jalan. Bukankah tarbiyah sendiri adalah sebuah dakwah kultural akhi ?.

  2. hmm..tulisan yg menarik. Yup, apa yg kang reza bilang di atas benar. Meski terkesan anti-politik tapi saya setuju dengan pendapat akang. Belajar dari sejarah dan media berimbang yg tidak condong adalah hal yg mutlak harus dilakukan. [meski setiap media pasti condong ke “ideologi” penulisnya]. Pelajari dari setiap aspek dan jangan ada emosi berlebih.

  3. Penegakan syriat islam harus melalui sistem islam yakni khilafah islamiayah, tehnik penegakan SYARIAT harus diatur dari hal yang kecil yaitu mempersatukan ummat dalam sutu-satunya wadah yang haq (khilafah) dan tunduk kepada ALLah,Rasul SAW dan ulil Amri (khalifah) bukan ketua umum, kiyai,ustad,presiden dll yang diluar sistem haq. BAGAIMANA PENDAPAT ANDA PRIHAL KHALIFAH ABDUL QADIR HASAN BARAJA’ (1997)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: