“Structure Building” Lebih Berat daripada “Brand Building”

Hari -hari ini kesibukan penulis di Yayasan Rumah Ilmu Indonesia kian terasa.

Sebuah tagline yang menunjukkan visi besar Yayasan “Sentra Pembelajaran Tenaga Edukasi Nasional” harus dapat dipertanggungjawabkan seoptimal mungkin. Dan tidak lain, bentuk tanggung jawab itu adalah kerja keras. Termasuk dari bagian kerja keras ini adalah upaya keras menghadirkan struktur Yayasan di Ibukota Negeri ini, Jakarta, serta mengoptimalkan rumah-rumah yang diamanahkan di Bogor, Depok, Banjaran dan Cicalengka.

Disinilah penulis merasakan bahwa membangun struktur, atau dalam bahasa da’wahnya : Binau Tanzhimy – jauh lebih berat daripada sekedar membangun citra – hal yang telah dilakukan dengan cukup sukses oleh komunitas Rumah Ilmu Indonesia selama setahun terakhir.

Tulisan ini adalah catatan kecil tentang point-point penting dalam pembangunan struktural, utamanya dalam konteks pengembangan Yayasan Rumah Ilmu Indonesia.

Everything is Opportunity

Teringat penulis apa yang dituliskan oleh begawan Manajemen dunia, Peter F. Drucker dalam salah satu jurnalnya di Harvard Business School :

Dalam situasi sosial, sebuah kejadian yang jumlahnya sangat kecil – paling banyak 10 % sampai 20 % – berdampak 90 % dari semua hasil, sedangkan sebagian besar kejadian hanya berdampak 10 % atau kurang dari hasil

Karenanya, semua pintu kemungkinan bagi penguatan struktural harus di”jabani” oleh pengurus Yayasan, karena saat ini hampir tidak ada kondisi yang stabil atau “unchangeable” yang menyebabkan kita bisa duduk tenang. Kesempatan kecil – 1 % sekalipun – harus dianggap serius, karena mungkin itulah pintu masuk ke arah pertumbuhan Yayasan ke arah yang lebih kuat di masa depan.

Point-point berikutnya juga masih akan merujuk Drucker, terutama pada Tiga Langkah Raksasa yang harus dilakukan sebagai pendekatan pertama dalam pengelolaan Yayasan Rumah Ilmu Indonesia :

Analisa

Pada tahap ini, para pembuat keputusan di Yayasan harus mengetahui fakta yang ada. Kita harus mengidentifikasi :

  • Peluang dan biaya produk yang sebenarnya
  • Potensi kontribusi dari berbagai aktivitas staf
  • Pusat biaya yang signifikan secara ekonomi

Alokasi

Pada tahap ini, kita harus mengalokasikan sumber daya sesuai dengan hasil yang diantisipasi. Untuk ini kita harus mengetahui

  • Bagaimana sumber daya dialokasikan saat ini
  • Bagaimana sumber daya sebaiknya dialokasikan di masa depan untuk mendukung aktivitas yang memberikan peluang terbesar
  • Langkah apa yang diperlukan untuk beralih dari sesuatu yang sedang menjadi yang seharusnya

Keputusan

Pengurus yayasan harus dipersiapkan untuk dapat mengambil keputusan menyangkut produk, aktivitas staf dan pengeluaran yang menjadi pangkal hambatan.

Last but not least, karena ini adalah sebuah kerja panjang yang mungkin tidak terselesaikan oleh generasi kita, maka dokumentasi yang baik dari setiap analisa, perkembangan, evaluasi yang dilakukan haruslah pula diperhatikan. Selain mempermudah duplikasi konsep Yayasan Rumah Ilmu Indonesia di berbagai tempat di Indonesia nantinya, juga sebagai upaya melanggengkan fungsi “pewarisan” kerja besar ini kepada generasi selanjutnya.

Insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: