Sedikit Menyoal Bill Kovach

Oleh : Reza Ervani

Quote yang paling terkenal dari Kovach, yang juga tercantum di wikipedia, mungkin adalah :

“Journalism is the closest thing I have to a religion, because I believe deeply in the role and responsbility the journalist have to the people of a self-governing community”

Kemudian, hal lain yang terkenal dari Bill Kovach ini adalah 9 Elemen Jurnalisme-nya, yakni :

  1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
  2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
  3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
  4. Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputannya
  5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan
  6. Jurnalis harus berusaha memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi
  7. Jurnalis harus berusaha untuk membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
  8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
  9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya

***

Loyalitas Utama Jurnalisme adalah Loyalitas Kepada Kebenaran

Menjawab pertanyaan Nisa di komentarnya terhadap salah satu tulisan di blog ini (https://rezaervani.wordpress.com/2008/06/19/serial-citizen-jurnalism-jurnalisme-masyarakat-1/#comment-10) maka kita akan sedikit merenung tentang point nomor 2 dari 9 elemen jurnalime itu :

Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara

Supaya tidak hilang semangat 9 Elemen itu, maka kita sertakan selalu point nomor 1 dalam benak kita :

Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran

Rasanya tak salah kalau redaksi point 1 itu sedikit penulis rubah menjadi :

Kewajiban utama jurnalisme adalah berpihak pada kebenaran

Dan dalam konsep Islam, kebenaran itu bukanlah sesuatu yang relatif adanya. Sebagai bahan renungan pula, rerhatikan ayat Quran berikut :

Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui. (Al Quran Al Karim Surah Al Baqarah ayat 42)

Karenanya konsep loyalitas ini juga haruslah merupakan loyalitas kepada kebenaran absolut, bukan kebenaran yang muncul karena dominansi mayoritas atau pergeseran nilai yang sesungguhnya salah, tetapi dianggap benar karena didukung oleh pihak yang kuat.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (Al Quran Al Karim Surah Al Israa ayat 36)

Karenanya point ke 8 dan ke 9 dari Elemen Jurnalisme Kovach diatas menjadi penting. Penulis salinkan kembali untuk pengingat dan penguat bahasan kita :

Jurnalisme harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional

dan

Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya

Seringkali produk jurnalistik terpengaruh oleh kebenaran relatif yang berkembang di masyarakat, yang sering kita sebut sebagai “opini publik”. Padahal diakui atau tidak, opini publik ini sesungguhnya dibentuk oleh media itu sendiri, begitu seterusnya, sehingga pada akhirnya jurnalisme terjebak sendiri didalam opini yang dibuatnya, tak bisa lepas dan terpaksa mengikuti opini yang disukai masyarakat itu.

Contoh kasus misalnya, Poligami Aa’ Gym.

Opini yang dibentuk oleh media adalah : Poligami itu tidak baik, Aa Gym yang menjadi panutan masyarakat seharusnya tidak melakukan poligami, poligami itu pasti menzholimi istri.

Masyarakat – terutama ibu-ibu – sangat menyetujui opini ini, termasuk Menteri Pemberdayaan Perempuan negeri ini.

Sulit bagi media kemudian untuk mengangkat sisi lain poligami, yang sesungguhnya dibenarkan oleh syariat Islam. Pertanyaan-pertanyaan verifikasi – sebagai bagian dari 9 Elemen Jurnalisme Kovach diatas – seperti : Kenapa Poligami dibenarkan secara syariat ? Bagaimana kajian ilmiahnya ? Apa benar semua poligami pasti menzholimi istri ? Adakah poligami yang sukses ? Bagaimana tinjauan psikologisnya ? dan banyak pertanyaan lain yang sesungguhnya bisa diajukan, MENJADI HILANG, karena dapat dipastikan jika ada media atau jurnalis yang MELAWAN ARUS opini masyarakat, maka media itu akan dihakimi oleh opini masyarakat yang terlanjur menjadi KEBENARAN BARU. Penulis pernah menemukan, keterjebakan jurnalisme ini digambarkan dengan apik disalah satu tulisan K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus).

Jika ingin benar berkaca dari Kovach, kita seharusnya ingat, bagaimana penyesalan Kovach ketika ia tidak melakukan verifikasi mendalam dalam salah satu repotasenya, dan kemudian berusaha meluruskannya dengan reportase baru, tanpa harus takut kehilangan nama dan publisitas. Penulis kutipkan paragraf berikut dari blog Andreas Harsono, seorang aktivis jurnalisme Indonesia :

… Kovach menjawab bahwa tiap wartawan bisa salah, termasuk dirinya, dan salah satu kesalahan yang mengganggunya belakangan ini adalah sebuah eseinya tentang Charles Longstreet Weltner dalam buku Profiles in Courage for Our Time, suntingan Caroline Kennedy, putri almarhum Kennedy.

Welter anggota Konggres asal negara bagian Georgia, yang terkenal berani. Tahun 1991, ia menerima John F. Kennedy Profile in Courage Award pada 1991, sebuah hadiah yang diberikan tiap tahun oleh sebuah yayasan milik keluarga mantan presiden John F. Kennedy kepada pejabat pemerintah yang dinilai punya keberanian moral.

Dalam esei itu, Kovach menulis bagaimana Weltner memilih mundur dari Konggres pada 1966 karena Lester Maddox, dicalonkan partainya dalam kampanye pemilihan gubernur Georgia. Maddox seorang pendukung segregasi atau seorang rasialis. Weltner melawan partainya sendiri, mengambil risiko dikucilkan, karena Weltner percaya bahwa tiap warga punya hak sama. Kulit putih maupun hitam. Weltner pun kehilangan karir politiknya.

Repotnya, sesudah mundur, Weltner punya kehidupan yang kacau. Dia cerai dari istrinya, suka mabuk, naik sepeda motor besar, dan bergaya macam anak muda. Kovach juga menerangkan bahwa pada periode ini Weltner menikah dengan istri keduanya. Pernikahan hanya bertahan lima bulan. Kovach tak menyebut nama istri kedua itu tapi pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian juga. Belakangan Weltner menikah dengan istri ketiga. Weltner lantas jadi hakim agung dan meninggal pada 1992.

Sesudah buku terbit, Kovach menerima sebuah bungkusan besar, dari mantan istri kedua Weltner. Isinya, berupa fotokopi surat, dokumen, foto, dan sebuah surat panjang. Dalam surat ini, si istri mengatakan Kovach keliru dan telah menghancurkan hidupnya hanya dengan tiga kalimat tersebut. Memang Kovach tak menyebut nama tapi banyak orang tahu siapa mantan istri kedua Charles Weltner. Si mantan istri mengatakan dua tahun itu termasuk periode hidupnya yang paling bahagia. Mereka hidup bahagia. Bahkan sesudah cerai pun, mereka masih sering berkomunikasi.

Kovach mempelajari kiriman itu dan menyesal karena merasa tak cukup melakukan reportase untuk mengetahui periode dua tahun itu. Kovach menelepon si mantan istri dan berjanji akan menulis sebuah esei untuk memperbaiki apa yang sudah ditulisnya. ”Saya mau pergi ke Indonesia tapi saya bilang saya akan mewawancarainya sesudah pulang dari sini. To get things right,“ kata Kovach.

Media dan Opini Masyarakat

Mungkin beberapa orang berpendapat, bahwa tidak semua acara di media pantas disebut sebagai produk jurnalistik, seperti gosip, lomba-lomba nyanyi dan lainnya. Tapi apa yang ditonton dan dibaca masyarakat, berpengaruh besar pada apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka opinikan. Jika yang ditonton mereka adalah sesuatu yang keliru, maka apa yang dipikirkan oleh mereka juga akan keliru, dan akhirnya apa yang menjadi opini mereka juga keliru. Ini menjadi rumit, jika kekeliruan itu menjadi kekeliruan publik, kekeliruan massal yang akhirnya berubah menjadi nilai baru yang dianggap benar, tetapi sesungguhnya salah.

Contoh nyata adalah opini masyarakat tentang Waria, Gay & Lesbian, yang tampaknya berusaha dibangun oleh beberapa media sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan hadir di masyarakat dengan alasan “Kebebasan Hak Asasi”.

Contoh yang penulis kemukakan diatas juga sesungguhnya menjadi kelemahan independensi jurnalisme Amerika Serikat yang mengarah kepada kebablasan. Bahkan di Committee of Concerned Journalists (CCJ) yang didirikan oleh Kovach, ada satu organisasi yang menamakan dirinya “National Lesbian & Gay Journalist Association”. Sungguh sebuah ironi …

Keberpihakan jurnalisme kepada warga negara, tidak serta merta membenarkan setiap opini yang lahir dari warga negara. Jurnalisme Adil, Jurnalisme Berimbang adalah jurnalisme yang berpihak kepada kebenaran. Jika warga negara benar, maka kesanalah seharusnya jurnalis berpihak, jika penguasa yang benar, maka jurnalis pun tidak perlu malu-malu untuk memihak.

Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? (Al Quran Al Karim Surah Al Ankabut ayat 67-68 )

Demikian

Allahu ‘Alam

Satu Tanggapan

  1. Nice article..

    Keep writing sir..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: