Membuat “Alur Trend” Pendidikan Sendiri, Mungkinkah ?

Oleh : Reza Ervani

Ketika program sertifikasi guru diluncurkan, banyak pihak yang menduga ia akan menimbulkan banyak masalah tambahan baru. Dan sedikit banyak hal itu terbukti.

Penulis pernah beradu argumen tentang Jardiknas dengan seorang representatif suatu Organisasi dibawah Kementerian Pendidikan. Walau debat yang berlangsung di forum resmi tentang Perpustakaan Digital itu bukan berkisar di masalah kebijakan pendidikan, tetapi di wilayah teknologi, prasangka bahwa Jardiknas akan juga menjadi proyek “setengah hati” sedikit banyak juga terbukti.

Penulis tidak tahu terlalu banyak data-data yang ada di berbagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas pendidikan. Tetapi program semacam Radio Edukasi, TV Edukasi dan lain-lain yang sifatnya “Top Down” juga tidak berjalan efektif. Anehnya, ada semacam “pemaksaan” bagi daerah-daerah untuk selalu menyukseskan program tersebut.

Dalam sebuah seminar pendidikan yang digagas oleh Yayasan Al Azhaar Tulungagung bulan April yang lalu, penulis berkesempatan bertemu dengan seorang pengusaha yang menyediakan server mandiri dengan kapasisas cukup besar di Tulungagung, tanpa ada keterkaitannya dengan Program Jardiknas dari Pusat. Walau kemudian yang tampak adalah kurangnya sistem pendukung SDM untuk mendukung ketersediaan fasilitas itu, tapi upaya seperti ini menurut penulis jauh lebih baik daripada harus “manut” dengan program dari pusat.

Lihat saja program sertifikasi guru.

Kalau saja tidak berpengaruh terhadap jenjang karir (baca : Gaji PNS), hampir dapat dipastikan hanya sedikit guru yang tertarik mengikuti program yang melelahkan seperti ini. Eksesnya adalah, banyak kemudian penerbit sertifikat ASPAL, formalitas guru mengikuti berbagai pelatihan hanya untuk mengumpulkan portofolio dan banyak lagi masalah negatifnya.

Sementara, di sisi lain, penulis mengamati, begitu banyak komunitas peduli pendidikan yang dibangun secara swadaya dan swadana elemen pendidikan, justru memiliki niat yang lebih tulus, bahkan standarisasi yang lebih bagus dalam upayanya meningkatkan kualitas tenaga didik. Sayangnya, ia tidak kemudian bisa menjadi trend nasional, sehingga bisa memberikan “keseimbangan alternatif” pada program-program peningkatan kualitas guru dari pusat.

Banyak lagi kalau kita harus paparkan alternatif trend pendidikan yang bisa kita bangun secara mandiri bersama komunitas sekolah-sekolah tanpa harus di”cocok hidung” oleh kebijakan pusat. Jardiknas tadi misalnya … dengan era komunikasi 4G yang ada di depan mata, telekomunikasi IP Based yang – seharusnya – Open Source, dapat saja komunitas sekolah di suatu daerah – didukung oleh komunitas Open Source setempat, misalnya – menyediakan server mandiri, atau jika belum mampu, menyewa server, untuk menyimpan data pendidikan dalam sebuah database bersama yang dihubungkan ke interface admin di sekolah masing-masing.

Dari sisi dana, ini tentu jauh lebih irit.

Dari sisi supervisi, ini tentu jauh lebih mudah karena cakupan wilayahnya lebih kecil dan dilakukan berbasis komunitas.

Dari sisi tanggung jawab, mungkin pula lebih bagus, karena dimulai dari inisiasi mandiri.

Walau tentu banyak juga langkah-langkah awal yang harus dilakukan, semacam penyiapan komunitas ”trigger”, kerjasama pendanaan dan lain-lain, tapi untuk sebuah hal yang lebih baik, kenapa tidak.

Tulisan ini sebenarnya mendorong penulis untuk lebih banyak belajar dan membaca tentang bagaimana sebenarnya implementasi otonomi pendidikan sebagai dampak dari UU Otonomi Daerah no. 22 Tahun 1999, termasuk di dalamnya otonomi sekolah dan komunitas pendidikan setempat. Tapi membaca secara tekstual, tampaknya peluang itu bisa diperjuangkan secara legal. Perhatikan misalnya pasal 7 ayat 1 UU tersebut :

”Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali dalam kewenangan politik luar negeri, pertahanan keamanan, keadilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain.”

Mudah-mudahan ada yang mau memperkaya opini ini dengan kajian-kajian yang lebih dalam dari berbagai aspek, termasuk aspek hukum dan teknis.

Dengan mengucap Bismilahirrahmanirrahiim, mari kita coba bangun trend pengembangan pendidikan sendiri.

Bangka Belitung, 21 Jumadil Akhir 1429 H

Satu Tanggapan

  1. Tulisan yang bagus Bung…. Kritis…Inspiratif…Sukses Selalu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: