Intrapreneurial Culture

Oleh : Reza Ervani

Selama ini orang lebih sering membicarakan dan mengadakan pelatihan seputar Entrepreneur. Pelatihan entrepreneur juga lebih berorientasi personal, mendorong seseorang untuk mulai berani mengambil resiko usaha mandiri, karena memang secara terminologi entrepreneur bermakna demikian :

a person who sets up a business or businesses, taking on greater than normal financial risks in order to do so.

Ada satu hal yang sebenarnya jauh lebih kuat dan efektif jika dipupuk terus-menerus dalam sebuah organisasi, entah itu organisasi laba maupun nirlaba, yakni Budaya Intrapreneurial.

Hermawan Kartajaya menjelaskan tentang Intrapreneurial Culture ini sebagai berikut :

Organisasi yang dibangun harus bisa menciptakan iklim yang memungkinkan tumbuh suburnya internal entrepreneur (intrapreneur). Di dalam organisasi semacam ini, manajemen harus mendorong dan mengembangkan inisiatif individu, intuitive thinking, take risk mentality, dan ide-ide orisinil yang kontroversial. Orang-orang di dalam organisasi harus juga selalu berpikir untuk merealisasikan setiap ide yang muncul mencapai tahap komersialisasi.

Jadi perbedaan mendasar Entrepreneur dan Intrapreneur adalah dari sisi “kelompok” (team).

Karena pengertian organisasi sangatlah luas, maka intrapreneur sesungguhnya bisa dikembangkan secara fleksibel di berbagai tingkatan, mulai dari keluarga, RT, hingga perusahaan besar.

Walaupun dilakukan ”berkelompok”, bukan berarti intrapreneur lebih mudah daripada ”wirausaha mandiri”. Perpaduan antara kepemimpinan (leadership) dan manajemen akan menentukan keberhasilan organisasi dalam mewujudkan hal ini.

Untuk menuju sebuah organisasi intrapreneur yang mapan, harus ada pula budaya pembelajaran di organisasi yang dikembangkan bersama-sama pemimpin dan pasukannya. Sehingga langkah pertama membangun sebuah organisasi intrapreneur dapat disimpulkan kemudian adalah membentuk terlebih dahulu sebuah “learning organization”.

Dalam sebuah learning organization, amanah terbesar di setiap personalnya adalah mengembangkan kemampuan masing-masing di bidang yang telah diberikan dalam bentuk job description di struktur organisasi.

Pemilihan orang yang tepat di posisi yang tepat pada saat awal pembentukan organisasi juga diperlukan, tidak asal menempatkan orang sesukanya di posisi-posisi strategis. Tidak hanya orang yang tepat, tapi juga orang yang memiliki semangat pengembangan diri (self development).

Jika alur ini dari awal diperhatikan dengan baik, maka budaya intrapreneur akan terbentuk dengan sendirinya di organisasi tersebut.

Mampukah Rumah Ilmu Indonesia mewujudkan itu …

Mari kita perjuangkan bersama …

Satu Tanggapan

  1. Menjadi Wirausaha Mandiri memberikan kita peluang sebesar kita mau, untuk berkembang dengan hati dan pikir kita! yang terpenting, mau berkorban untuk orang lain!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: