2G vs 3,5G

Oleh : Reza Ervani

Selama di Kampung, penulis menggunakan layanan Indosat M2 dan M3 untuk bisa terus berkoneksi dengan dunia maya.

Jika di Bandung dan Jakarta penulis menggunakan modem HSDPA, di Kampung Koneksi dilakukan dengan Communicator 3500 yang dihubungkan dengan Laptop Penulis.

Bedanya benar-benar terasa.

Di daerah yang memiliki jangkauan 3.5 G seperti di Bandung dan Jakarta, Modem HSDPA penulis bisa optimal mencapai 7,2 Mbps, sementara di jaringan GPRS seperti ini, dengan Communicator Cuma bisa mencapai 115,2 Kbps.

Tulisan ini sedikit memberikan wawasan kenapa dua teknologi itu berbeda jauh. Jika suatu saat ternyata teknologi 3G atau bahkan 4G ini nantinya dapat dinikmati di banyak tempat di Indonesia, bukan tidak mungkin jaringan internet akan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat pendidikan, terutama di pelosok-pelosok.

Sekilas Tentang Teknologi 2G hingga 3,5G

Teknologi 2 G dibangun untuk data suara (telepon) dan transmisi yang berkecepatan rendah.

Telepon GSM menggunakan teknologi yang disebut CSD (Circuit Switched Data) untuk mentransfer Data. CSD ini mensyaratkan telepon untuk terhubung dengan sebuah koneksi khusus ke jaringan sebelum ia dapat mentransfer data (seperti membuat hubungan suara telepon) yang membutuhkan waktu paling lama 30 detik. Transfer Data relatif lambat : 14,4 kbps untuk GSM 1800 dan 9,6 kbps untuk jaringan GSM 900.

GPRS adalah singkatan dari General Packet Radio Services. GPRS adalah Layanan Data Mobile berorientasi Paket Data. Tidak seperti koneksi suara switch- circuit, ia merupakan packet-switched yang selalu “on” selama telepon berada di jangkauan layanan operator.

Sistem selular generasi kedua (2 G) yang dipadukan dengan GPRS seringkali disebut 2,5 G. GPRS sendiri mampu mengalirkan data dari 56 hingga 114 kbit/s

Kecepatan transfer bergantung pula pada enkoding kanal yang digunakan, yang paling lemah tetapi paling cepat ialah skema koding CS-4 yang berada di dekat BTS, sementara skema koding CS-1 digunakan ketika mobile station (MS) berada jauh dari BTS.

Coding
scheme

Speed
(kbit/s)

CS-1

8.0

CS-2

12.0

CS-3

14.4

CS-4

20.0

GPRS sendiri memiliki berbagai kelas, seperti yang ditunjukkan oleh tabel berikut ini :

GPRS Class

Slots

Max. data transfer speed

Class 2

3

8 – 12 kbps upload / 16 – 24 kbps download

Class 4

4

8 – 12 kbps upload / 24 – 36 kbps download

Class 6

4

24 – 36 kbps upload / 24 – 36 kbps download

Class 8

5

8 – 12 kbps upload / 32 – 40 kbps download

Class 10

5

16 – 24 kbps upload / 32 – 48 kbps download

Class 12

5

32 – 48 kbps upload / 32 – 48 kbps download

GPRS juga disebut sebagai teknologi awal evolusi dari jaringan GSM ke jaringan UMTS (Universal Mobile Telecommunication System).

Sederhananya seperti ini :

Pada sistem GSM, elemen GPRS yang disebut MSC (Mobile Switching Centre) bertugas menangani semua operasi switched-circuit seperti menghubungkan pengguna A dengan pengguna B. Ada pula elemen GPRS yang disebut Serving GPRS Support Node (SGSN) yang bertugas menangani semua operasi packet-switched dan mentransfer semua data di jaringan. Pada UMTS, kedua operasi tersebut (circuit-switched dan packet-switched) ditangani oleh Media Gateway (MGW).

Sebenarnya ada beberapa protokol 3G, yakni :

  • Universal Mobile Telecommunication Service (UMTS)
  • Wideband Code-Division Multiple Access (WCDMA)
  • High-Speed Downlink Packet Access (HSDPA)
  • Evolution Data Maximized (EVDO)

Karena tadi diawal kita menyinggung tentang modem HSDPA, maka rasanya tidak salah kalau kita bahas sedikit tentang HSDPA.

Sebagaimana yang sudah kita sebutkan tadi, bahwa HSDPA adalah generasi ketiga (3G) Protokol Komunikasi Telephon Mobile di keluarga High Speed Packet Access (HSPA) yang memperkenankan jaringan berbasis UMTS untuk memiliki kecepatan data transfer dan kapasitas yang lebih tinggi.

Kita akan singgung sedikit tentang High-Speed Downlink Shared Channel (HS-DSCH) yang digunakan oleh HSDPA untuk mengirimkan paket data. HS-DSCH ini meningkatkan performa downlink menggunakan Adaptive Modulation and Coding (AMC), penjadwalan paket yang cepat di Base Stasion, dan dan retransmisi yang cepat dari Base Station, yang dikenal sebagai Hybrid Automatic Repeat-Request (HARQ). Di HARQ sendiri, data dikirim berulang kali mengunakan coding yang berbeda-beda. Ketika sebuah paket yang cacat diteima, perangkat pengguna menyimpannya dan kemudian memadukannya dengan data yang dikirim ulang berikutnya, untuk memperbaiki paket cacat tadi se-efisien mungkin, sehingga terbentuklah sebuah paket data yang bebas cacat.

Setiap perangkat pengguna mengirimkan secara periodik suatu indikasi kualitas sinyal downlink, sekitar 500 kali per detik. Dengan informasi dari semua perangkat ini, base stasion memutuskan pengguna mana yang akan dikirimkan data pada frame 2 ms berikutnya, dan berapa banya data yang harus dikirimkan untuk setiap pengguna. Data yang lebih banyak dapat dikirimkan ke pengguna yang melaporkan kualitas sinyal downlink yang tinggi.

Hmm, mudah-mudahan tergambar ya perbedaannya … Banyak yang belum dibahas dalam artikel singkat ini, tentu saja itupun karena masih terbatasnya pengetahuan penulis tentang teknologi komunikasi yang berkembang begitu cepat. Tapi niat untuk terus menulis tentang ini juga telah ada di hati … jadi mudah-mudahan bisa berlanjut dengan artikel-artikel berikutnya …

Semoga bermanfaat …

(Diolah dari berbagai catatan dan sumber)

Satu Tanggapan

  1. artikel bagus….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: