Core Competence

Oleh : Reza Ervani

Peter F. Drucker, Sang Guru Manajemen itu mengatakan :

Teori bisnis memiliki tiga bagian.

Pertama adalah asumsi tentang lingkungan organisasi, yaitu masyarakat dan strukturnya, pasar, customer, dan teknologi

Kedua, adalah asumsi tentang misi spesifik organisasi.

Ketiga, adalah asumsi tentang kompetensi inti yang diperlukan untuk mencapai misi organisasi

Untuk yang ketiga ini, dia memaparkan sebuah contoh :

West Point, yang didirikan tahun 1802, menjelaskan kompetensi intinya yaitu kemampuan untuk menghasikan pemimpin yang layak dipercaya.

Marks & Spencer sekitar tahun 1930 menjelaskan kompetensi intinya yaitu mampu mengidentifikasi, merancang dan mengembangkan barang-barang yang dijualnya, alih-alih kemampuan untuk membeli.

AT & T menjelaskan kompetensi intinya yaitu unggul dalam hal teknis hingga perusahaan mampu meningkatkan pelayanan sambil mempertahankan tingkat harga rendah.

Penulis salinkan pula apa yang dituliskan oleh Hermawan Kartajaya dalam Mark Plus Second Generation :

Strategi dan taktik marketing sebaiknya diarahkan hanya ke suspek sehingga tidak membuang sumber daya, waktu dan kesempatan. Untuk mengetahui suspek pertama kali marketer harus memahami misi perusahaan – dimana di dalamnya terkandung pernyataan lingkup bisnis, kemudian baru nilai manfaat yang terkandung di dalam produk.

Suspek ini kemudian disaring lagi berdasarkan daya belinya untuk mengetahui suspek yang potensial dan suspek yang tidak potensial. Setelah itu, marketer akan mencoba mengarahkan aktualisasi pembelian para prospek ke satu brand tertentu.

Kita tarik kembali ke konteks Rumah Ilmu Indonesia.

Ketiga didirikan pertama dari komunitas milis rezaervani (http://groups.yahoo.com/group/rezaervani) core competence yang ingin dicapai adalah sentra edukasi tenaga pendidik. Ini CORE-nya …

Selanjutnya seperti yang diungkapkan oleh Hermawan Kartajaya diatas :

Strategi dan taktik marketing sebaiknya diarahkan hanya ke suspek sehingga tidak membuang sumber daya, waktu dan kesempatan.

… maka seluruh upaya di Rumah Ilmu Indonesia, termasuk pengembangan sayap korporasi sebagai “money machine”, juga diarahkan untuk memperkuat core competence tadi. Efek yang diharapkan adalah semua inovasi produk yang dikembangkan di sayap korporasi-pun menjadi produk yang misinya adalah EDUKASI. Makanya, terlihat kemudian bahwa yang diupayakan keras berkembang di Rumah Ilmu Indonesia adalah Media Edukasi (termasuk penerbitan dan Siaran Radio/TV Edukasi), Training Provider dan – ke depan – Sekolah dan Lembaga Konsultasi.

Produk sampingan sebenarnya dapat dikembangkan dalam rangka “Money Gathering” ini, semisal Pengembangan Software Perpustakaan Digital, Penjualan Acara Televisi ke Stasiun Komersial dll. Inovasi produk yang seimbang antara upaya meningkatkan keuntungan sayap korporasi tanpa kehilangan Core Competence memang membutuhkan kreatifitas yang tinggi.

Tidak mudah memang, tapi jika ia menguat nanti, maka positioning Rumah Ilmu Indonesia sebagai Sentra Edukasi, Budaya dan Sains Terapan (sebagai bentuk lain dari Sentra Edukasi Tenaga Pendidik Nasional) akan juga menguat.

Fa idza azzamta fa tawakal ‘alaLlah

Bangka Belitung, 19 Jumadil Akhir 1429 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: