Serial Citizen Jurnalism (Jurnalisme Masyarakat) [1]

Jurnalisme Berimbang + Jurnalisme Positif = Jurnalisme Adil

Oleh : Reza Ervani

Ada yang memberi pengertian tentang Peace Journalism sebagai berikut :

Peace Journalism is when editors and reporters make choices – of what stories to report, and how to report them – which create opportunities for society at large to consider and to value non-violent responses to conflict.

Jika ingin disederhanakan, maka kita dapat memberikan definisi terhadap jurnalisme positif sebagai berikut :

Jurnalisme positif adalah ketika para editor dan reporter membuat pilihan – tentang cerita yang ingin dilaporkan dan bagaimana cara mereka dilaporkan – yang menciptakan kesempatan bagi khalayak ramai untuk mempertimbangkan hal-hal yang positif bagi perilaku personal dan interaksi antar mereka.

Definisi diatas memberikan kita pengertian bahwa WHAT dan HOW bukanlah semata-mata permasalahan teknik jurnalistik, tetapi juga menyangkut nilai yang dipegang oleh para jurnalis.

Mengembangkan Jurnalisme Masyarakat (Citizen Journalism) menjadi sebuah tantangan tersendiri jika kita tidak ingin terus didikte oleh nilai-nilai media yang berkembang saat ini.

Bagi masyarakat yang mayoritas muslim seperti di Indonesia, seharusnya hal ini bisa diwujudkan, apalagi saat ini kesadaran untuk beropini sudah tumbuh. Indikator-indikator sederhana seperti maraknya blog dan newsgroups dapat dijadikan dasar bagi upaya pengembangan Citizen Journalism. Hanya mungkin perlu dilakukan upaya “penggeseran lanjutan” dari budaya berkomentar reaktif menjadi budaya beropini logis dan merujuk referensi.

Di Taiwan, orang mengenal Wu Ping Hai, seorang masyarakat biasa yang kemudian memiliki kesadaran jurnalistik yang tinggi dengan menyumbangkan informasi tentang segala hal yang terjadi di sekelilingnya – secara rutin – ke media massa. Di Taiwan sendiri sudah ada lebih dari 700 orang masyarakat yang terlibat dalam Citizen Journalism, dengan lebih dari 2200 liputan yang dihasilkan selama 3 bulan (data April – Juli 2007).

Bagi komunitas yang memiliki sistem panutan, semacam pesantren dengan kiai-nya, atau masyarakat adat dengan tokoh adatnya, peran pemimpin atau teladan ini dalam menentukan nilai-nilai yang mewarnai konsep jurnalistik masyarakat menjadi semakin kuat. Nilai-nilai positif yang menjadi filosofi pendidikan dan budaya dapat muncul dengan sangat kuat ke permukaan, jika para pemimpin dan teladan ini mengambil bagian dalam jurnalisme masyarakat ini. Dan apa yang tadi kita sebut sebagai “jurnalisme positif” bisa kemudian tercapai.

Keberadaan pemimpin ummat ini dapat memberikan rambu yang jelas terhadap nilai jurnalistik yang ingin dibangun. Tidak seperti yang ada saat ini, dimana nilai itu ditentukan sendiri oleh media. Padahal media amat bergantung pada uang, sehingga akhirnya nilai yang dibawa oleh media pun bergeser ke nilai yang diusung para pembeli yang mampu membayar keinginan dan propagandanya di media.

Peran pengawasan dapat menjadi efektif seiring dengan semakin heterogennya komunitas jurnalistik masyarakat ini. Tidak ada lagi tokoh karbitan, yang kosong isi tapi muncul jadi public figure karena rekayasa media. Tak ada pula tokoh besar yang hancur namanya karena keinginan media. Proses tarik menarik antara yang pro dan kontra pada sebuah isu – jika ditata sedemikian rupa – akan memberikan “opinion balancing” kepada masyarakat dalam memandang fenomena yang terjadi di hadapan mereka. Disamping tentu saja, berita yang berasal dari komunitas dan masyarakat langsung ini dapat menjadi “penyeimbang” media-media yang cenderung mengambil nara sumber tunggal, atau menyalin dari satu kantor berita tunggal. Inilah kemudian yang kita namakan sebagai “jurnalisme berimbang”.

Tapi perlu pula dicatat, berimbang disini bukanlah berarti menjaga keseimbangan antara yang benar dan salah, atau yang haq dan yang bathil, atau yang halal dengan yang haram. Tetapi ia akan terus mencondongkan diri kepada yang benar, yang haq, dikarenakan tekanan yang salah dan bathil saat ini cenderung kuat dan membahayakan.

Perpaduan jurnalisme positif dan jurnalisme berimbang itu dapat kemudian kita muarakan pada jurnalisme adil. Yaitu jurnalisme yang memihak kepada nilai-nilai kebenaran dan kesholihan. Bukan jurnalisme yang tidak memihak dan terombang-ambing oleh berbagai kepentingan. Jurnalisme adil ini sesungguhnya adalah bagian dari keniscayaan upaya sebuah bangsa, jika ia ingin menjadi besar dan memberikan sumbangan bagi peradaban dunia.

Allahu ‘Alam.

Bangka Belitung, 22 Jumadil Akhir 1429 H.

2 Tanggapan

  1. timakasih udah nulis blog ini,,bantu aku bgt bwt ngerjain tugas Produksi Media Cetak (aku mahasiswi PR Undip).

    eemm,,klo boleh nanya,
    mas/om/bapak reza ervani tau ttg pndapatnya Bill Kovach yg menjelaskan soal loyalitas pertama jurnalis adalah kpd warga, ga..?

    thnx..

  2. Saya jawab pertanyaannya dalam bentuk sebuah artikel khusus di blog ini ya. Silahkan klik : https://rezaervani.wordpress.com/2008/06/29/sedikit-menyoal-bill-kovach/

    DInantikan terus diskusi-diskusinya ya

    Salam,
    Reza Ervani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: