Not Only Cognitive Thing

Oleh : Reza Ervani

Teori Psikologi Kognitif pada awalnya lahir untuk menentang dominansi psikologi behavioristik. Dan pada akhirnya ia menjadi pandangan yang cukup penting dalam teori-teori pembelajaran. Akhir-akhir ini penulis terliibat lebih intensif dalam kajian-kajian seputar ‘opinion construction’ terutama yang berbasis media massa. Semakin intensif ketika beberapa rekan aktivis muslim mengajak untuk mulai membangun media massa berimbang.

Proses pengkajian tadi membawa penulis untuk semakin lebih banyak membaca. Mulai dari Sherlock Holmes hingga Fii Zhilal Sayyid Quthb yang diulang kembali.Rupanya inilah salah satu hikmah mengapa Allah swt sediakan kemudahan fasilitas informasi di Rumah Ilmu Indonesia Bandung beberapa minggu terakhir.

Lalu muncullah beberapa ‘temuan’ dalam perjalanan pengkajian itu. Misalnya ‘temuan’ tentang betapa sabarnya penulis-penulis dengan haluan tertentu melakukan ‘repetitif opinion’ lewat artikel rutin di berbagai surat kabar. Jam terbang kepenulisan yang tinggi membuat mereka dengan lihai mengendalikan emosi mereka ketika membangun opini dengan sesekali melakukan letupan-letupan untuk memancing renungan hingga amarah sang pembaca.

Di kalangan pemikir muslim yang istiqomah, ada beberapa yang juga memilki kemampuan bermain-main dengan logika dan emosi sang pembaca. Sebut saja dua diantaranya, yaitu Bang Taufiq Ismail – yang memang seorang sastrawan besar – dan ustadz Rahmat Abdullah, seorang guru dakwah. Allahu yarham.

Di kalangan Nahdhatul Ulama anda juga dapat menemukan banyak kiyai yang tulisannya sangat lembut tapi memiliki kekuatan sangat besar. Satu diantara yang penulis suka gaya tuturnya adalah K.H.Shalahuddin Wahid.

Dalam bahasa Imam Al Ghazali, yang dimaksud dengan akhlaq adalah ‘respon spontan’ seseorang terhadap stimulus yang diberikan oleh lingkungan eksternalnya. Respon spontan ini merupakan reaksi yang muncul sebagai akumulasi memori respon tunggal terhadap stimulus tersebut. Contoh, seseorang yang dari kecil dibiasakan bertasbih ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, serta merta akan mengucapkan hal itu ketika ia menemukan sesuatu yang menurutnya menakjubkan.

Hal itu sebenarnya menunjukkan kepada kita, betapa upaya ‘opinion construction’ yang dilakukan berulang-ulang (repetitif) dapat mempengaruhi respon seseorang pada apa yang sedang terjadi di lingkungan sekelilingnya. Itulah pula sesungguhnya yang sedang dilakukan oleh seorang guru di kelas pada saat kegiatan belajar mengajar dan itupula yang dilakukan oleh penulis-penulis kolom tetap di
berbagai media, yakni sebuah ‘opinion construction with repetitif action’.

Karenanya harus kita sadari kini bahwa proses menulis dan membaca sesungguhnya bukan sekedar kegiatan kognitif. Akumulasi kegiatan kognitif ini jika dilakukan secara konsisten akan berdampak pada perubahan pandangan seseorang tentang sesuatu, dan pada akhirnya mempengaruhi sikap dan prilaku seseorang pada lingkungan sekitarnya.

Seorang ‘da’i pena’ harus mampu melakukan proses pembentukan opini tadi dengan sangat sabar, sehingga tulisannya tidak hanya mampu menggelitik saraf opini seseorang, tetapi nantinya akan mampu pula merubah budaya masyarakat dalam merespon segala dinamika yang terjadi di keseharian dengan cara yang lebih baik.

Allahu ‘Alam

Perjananan Bogor-Bandung, 10 Juni 2008
(Original Writing by Reza Ervani with Communicator NOKIA 9500)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: