Ideologi Penulis

Jadi pengarang apa ?
Barangkali tuan sangka akan lebih mudah lagi jika mengarang soal-soal agama.
Itupun bukan sedikit kesulitannya. Sebab pengarang itu harus bebas dari taklid harus berpendirian sendiri, walaupun berlawanan dengan mazhab dan ulama yang dahulu. Sebab yang dinantikan orang dari seorang pengarang, bukan gramofon fikiran orang lain tetapi pendapatnya sendiri.

“Tentukanlah tujuan hidup, dan berjuanglah untuk mencapainya !!!”

(Buya HAMKA, Kenang-kenangan Hidup halaman 124)

Penulis tanpa ideologi adalah penulis tanpa tenaga

Khayalnya terbang kemana-mana
tetapi kakinya tak pernah berpijak pada ruang dan waktu yang nyata
yang tertinggal hanya prolog, alur dan epilog sebuah cerita
mungkin sempurna secara bahasa
tapi hampa tanpa daya

Tulisan adalah duta ideologi Sang pujangganya.

Di balik katanya tersimpan seruan lembut yang tak terdengar oleh telinga
tapi mampu menyusup ke selongsong dada
dan menggetarkan dawai-dawainya
dari dalam jiwa

Kata yang terangkai adalah pedang sang penyairnya

Ia mampu robohkan ribuan benteng perkasa
tanpa harus lontarkan meriam kearahnya
ia gelisahkan jenderal lawan nan digdaya
tanpa harus kumpulkan pasukan di sekelilingnya

Yang dipegang seorang sastrawan bukanlah pena kecilnya

tapi ideologi besarnya …
Semakin tinggi keyakinannya,
semakin luas pula cakrawala paparannya

Tulisan-tulisan yang muncul dari celupannya

mampu membasahi gersang hati yang merindu nasehat sempurna
mampu lahirkan air mata
bahkan kerelaan berkorban serahkan harta dan nyawa

Jiwa teguh itu digambarkan kitab suci dengan sebuah perupa

Kamatsalil jannah bi rabwatin ashoobahaa
Waabilun fa-aatat ukulahaa
Dhi’fayni

Fa inlam yushibhaa
Waabilun fathal

Semisal kebun rimbun di dataran tinggi
Tersiram hujan lebat
Buahnya dua kali lipat

Jika tak ada hujan
Gerimis dan embunpun mencukupi

Rangkaian kalimat kokoh itu berdiri di atas keyakinan ideologi seorang penulis

Wallahu ta’maluuna bashir

Allahu `Alam

Bandung, 28 Jumadil Ula 1429 H
Ditulis sebagai ucapan terima kasih kepada Bapak Mif Baihaqi, Ketua Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia atas pengantar indahnya dibuku “Ada Cinta di Masjidku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: