Apa Beda Soft Skill dan Hard Skill

Oleh : Reza Ervani

Wikipedia menuliskan pengertian Soft Skill dan Hard Skill sebagai berikut :

Soft skills is a sociological term which refers to the cluster of personality traits, social graces, facility with language, personal habits, friendliness, and optimism that mark people to varying degrees. Soft skills complement hard skills, which are the technical requirements of a job.

Sementara ada yang mendefinisikan Hard Competence sebagai berikut :

The hard competence referring to job-specific abilities, and relevance will be about specific knowledge relating to “up to date” systems.


Ada yang menyebut Hard Competence sebagai Hard Skill atau Technical Competence atau Functional Competence, dan memberikannya pengertian sebagai berikut :

Functional competence refers to the ability to accomplish job purposes in a system.

Rasanya tak salah, kalau penulis membuat definisi sendiri tentang Soft Skill atau Soft Competence serta Hard Skill atau Hard Competence ini :

Ada hadits Nabi yang berbunyi :

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)

Hadits ini sudah cukup mewakili perpaduan yang serasi antara Soft Competence dan Hard Competence dalam diri seseorang.

Dalam hadits itu, soft competence menjadi core (inti) setiap tindakan, termasuk karya dan keterampilan, yang merupakan hard competence yang bersifat spesifik dan khas di tiap orangnya.

Banyak sekali hadits Nabi yang menempatkan usaha seseorang di bidangnya (hard competence) dalam bingkai soft competence :

Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)

Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)

Itulah mengapa sebenarnya, pelatihan soft competence SEHARUSNYA menjadi BUKAN menjadi materi pelatihan, tetapi filosofi pelatihan. Contoh misalnya, jika anda mengadakan pelatihan jurnalistik, yang dilatih seharusnya adalah bagaimana mengolah bahasa pemberitaan, bagaimana melakukan manajemen isu, bagaimana optimasi jaringan pemberitaan – misalnya – BUKAN malah diberikan ceramah motivasi tentang pentingnya jurnalisme Islam atau motivasi menjadi jurnalis dan semacamnya.

Pembelajaran soft competence seharusnya dilakukan secara intensif lewat pembelajaran personal (tarbiyah dzatiyah) dengan membuka pintu selebar-lebarnya bagi nasehat “spiritual” dari berbagai macam guru, termasuk guru “kehidupan”.

Ustadz vs Trainer
Izinkan saya membaginya menjadi 2 (dua) macam, berdasarkan jenis pengajarannya, jika yang dimaksudkan adalah ustadz dalam terminologi ahli agama di masyarakat umum.

a. Jika yang diajarkan adalah materi-materi furu’ (cabang), semacam fiqh ibadah, tafsir Quran, maka sesungguhnya ia menyentuh tataran hard competence, yang membutuhkan kelas terkurikulum, dan terbuka untuk ruang kajian yang lebih luas. Sang ustadz yang menjadi pengajarpun sesungguhnya mesti belajar tentang hal yang diajarkannya, tidak sembarang tebak karena memang ada teori yang telah dibangun oleh ilmuwan-ilmuwan di bidang tersebut.
b. Jika yang diajarkan adalah nasehat-nasehat keagamaan, maka itulah yang disebut soft competence. Kebijaksanaan yang timbul setelah mendengar ceramah sebenarnya adalah proses internalisasi yang terjadi di diri seseorang, bukan karena “diajarkan” oleh sang ustadz.

Dengan Analogi seperti itu, tentu anda bisa menarik equivalensinya dengan trainer yang tampil di depan kelas …

Semoga bermanfaat

Bangka Belitung, 17 Jumadil Akhir 1429 H

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: